Ay's Blog

Another Side of My Life…

A Post To Remember The Puppies…

Barb

Namanya Barbie, kami ‘adopsi’ sejak berusia sekitar 2 bulan, 3 tahun yang lalu. Kenapa Barbie? Nama di aktenya adalah “Barbie von Viro”, dan sejak awal kami tidak berniat untuk mengubahnya lagi. Barbie memiliki fisik yang kecil, lebih kecil dibandingkan chihuahua sejenisnya. Sejak awal hingga sekarang, sudah 4x dia melewati fase melahirkan, namun selalu berakhir dengan menyedihkan…

Kehamilannya yang pertama, sempat di USG. Hasil USG mengatakan memang ada janinnya, tapi ternyata hingga hari H, tidak ada satu ekorpun puppy yang dilahirkan, hingga kelamaan perutnya kempes dengan sendirinya. Dokter bilang, mungkin hamil anggur. Kehamilan kedua, sempat di USG lagi. Kenapa di USG? Mengikuti saran dokter hewan langganan kami, karena si Barb terlalu kecil, jadi sebaiknya di USG. Just in case janinnya sungsang, bisa langsung dilakukan tindakan caesar daripada membahayakan nyawa induk dan baby nya. USG kedua, hasilnya dibilang hamil anggur lagi. Jadi saya juga santai tenang-tenang saja di rumah meski tanggal sudah menunjukkan 2 bulan sejak pembuahan terjadi.

Hingga di siang hari, saat sedang sibuk bekerja di kamar seperti biasa, saya mendengar Barb menggonggong tiada henti. Masih dengan alasan sibuk dengan pekerjaan, saya memilih untuk bersikap cuek. Hingga 5 menit, gonggongan tidak juga berhenti. Saya putuskan menengok keluar sebentar, dan apa yang saya lihat sungguh mengejutkan. Seekor anak anjing di sisi luar kandang Barb dan Barb panik di dalam kandangnya. OMG!! Ternyata bukan hamil anggur, bayi anjing sungguhan lahir! Meski sudah terbiasa hidup serumah dengan anjing sejak kecil, belum pernah saya membantu anjing melahirkan, dan saya sama sekali tidak paham bagaimana harus mengurus baby anjing yang baru lahir. Dokter hewan langganan saya? Sedang di Jepang untuk studi dan saat itu tidak bisa dihubungi (mungkin sedang di kelas). Saya lihat, si baby sudah bersih. Saya coba susukan ke induknya, tidak bisa. Dan dia juga tidak banyak bergerak. Cemas, sayapun membeli susu formula dan kemudian saya minumkan ke baby dengan pipet, sedikiiiit demi sedikit. Dan meski sudah sesedikit mungkin, si baby tetap tidak bisa menerima dengan baik. Susu selalu keluar lagi dari hidungnya. Pendek cerita, baby meninggal 25 jam setelah kelahirannya.

Kehamilan Barbie yang ketiga, saya trauma. Nggak mau lagi USG. Mau lahir ya lahir, enggak ya sudah. Menjelang hari-hari persalinan, saya titipkan Barbie di dokter hewan langganan (yang sudah balik dari studinya di Jepang), dan ternyata bayinya sungsang! Terlalu lama tidak bisa keluar dengan utuh, akhirnya si bayi lahir sudah tanpa nyawa. Lagi-lagi kami kehilangan…

Kehamilan ke empat, 7 Oktober 2015 kemarin. Jujur awalnya kami sudah tidak banyak berharap. Dan dokter hewan langganan juga menyarankan si Barb melahirkan di rumah saja karena menurut dia, si Barb ini tipe anjing yang gampang stress. Lingkungan diluar rumah akan membuat dia semakin stress. Berbekal nasehat itu dan feeling bagus yang saya punya saat itu (entah bagaimana datangnya), kami memutuskan Barb tetap di rumah meski hari persalinan segera tiba. 7 Desember, berlalu begitu saja. 8.. 9.. hingga 10 Desember, siang hari, saya lihat dia mulai berputar-putar. Merasa saatnya segera tiba, saya segera meminta anak-anak saya untuk pergi tidur siang, berharap kehebohan mereka tidak membuat saya semakin panik. Namun apa daya, prosesnya begitu cepat. Dalam 10 menit, si Barb sudah mengeluarkan sesuatu sebesar telur ayam kampung. Saya amati, pantat! Yup, baby nya sungsang lagi!

DSC_4513

Panik langsung menyerang. Posisi saat itu, bayi baru keluar hingga batas pinggang, dan kantongnya masih utuh. Saya coba menghubungi dokter hewan langganan, gagal. Akhirnya saya menghubungi Om saya yang sudah berpengalaman membantu kelahiran anjing. Barb mengejan lagi, bayi keluar sedikit lagi dan berhenti sampai di leher! Makin panik? Jelas!! Apalagi kemudian Barb tampak kelelahan, diam terengah-enggah hingga nyaris menutup mata. Haiyah!! Kepala bayi masih di dalam, dan dengan posisi seperti itu, waktu hidupnya nggak lama. Kalau tidak segera keluar, bakal tewas bayinya. Ditarik juga nggak bisa. Untunglah beberapa menit kemudian, Barb kembali mengejan dan kali ini kepala sukses keluar. Segera kantong saya pecahkan sesuai instruksi Om saya, saya bersihkan bayinya sampai benar-benar bersih. Kemudian saya coba susukan ke induknya, dan bisa! Legaaaa…. benar-benar sangat lega!! Makin lega lagi setelah sekitar 2 jam kemudian saya lihat, si bayi sudah bisa menyusu sendiri pada induknya. Fiuhhh… Oh ya, puppy nya betina, lahir sekitar jam 12:40, dan bulunya putih mulus.

Suami saya datang, pasang lampu buat si puppy, trus elus-elus si Barb. Beberapa saat kemudian, suami menyadari bahwa si Barb mengejan lagi. Perut Barb mengeras dan dia mengejan berkali-kali. Ditunggu hingga nyaris 30 menit, tetap begitu tanpa kemajuan. Suami saya yang kelaparan karena belum makan siang, keluar beli makanan. 5 menit setelah kepergiannya, Barb melompat dari kardusnya (setelah melahirkan saya taruh dia di kardus karena khawatir puppy nya bakal jatuh lagi kalau ditaruh di kandang) dan lahirlah anak keduanya, 15:24. Kali ini nggak sungsang dan kelahirannya sangat mudah. Betina, bulunya putih dengan 3 totol hitam di punggung, mirip baby dalmatian. Segera saya bersihkan lagi, dan segera pula saya menyadari, ada yang salah dengan puppy yang kedua…

DSC_4539

Puppy kedua lahir tanpa bibir atas, dan tidak ada sekat antara hidung dengan mulutnya. Sedih? Pasti! Dan sesegera mungkin saya bersiap untuk kemungkinan terburuk. Sama seperti puppy pertama yang berhasil lahir di kehamilan Barb yang kedua, puppy ini juga tidak bisa menyusu pada induknya. Keesokan harinya, saya sempat mengambil donor ASI untuk puppy kedua. Saya coba pipetkan, dan seperti yang bisa diduga, keluar lagi lewat hidung.

DSC_4557

puppies

Menjelang sore, badan puppy kedua makin lemah. Sempat saya dan suami memberikan susu lagi untuknya dengan pipet. Si puppy di tangan suami, dan lidahnya masih bergerak meski sangat lemah. Kemudian dia terlihat mengeluarkan kotoran, sehingga saya minta suami mengembalikan ke kardus untuk dibersihkan oleh induknya. Namun ternyata, itulah saat terakhirnya. Hanya dalam hitungan beberapa menit, dia berhenti bernafas sekitar jam 17:37. Sedih, namun saya ikhlas. Sudah bersiap untuk  yang terburuk sejak awal, sudah mengusahakan semua yang terbaik, namun memang lebih baik dia pergi…

DSC_4585

Farewell kisses

Puppy pertama, rajin menyusu pada induknya, gerakannya juga lincah, sungguh menyenangkan. Saya percaya diri bahwa dia akan bisa survive dan sehat hingga dewasa. Hingga 14 Desember kemarin, sepulang menjemput anak saya dari sekolah, saya menyadari bahwa si puppy tidak selincah biasanya, malah cenderung lemah. Menit ke menit, makin lemah. Sempat saya berusaha memberi susu dengan pipet juga, namun secepat itu dia juga tidak bernafas. Dan kali ini, saya tidak siap! Down, shock, kecewa, marah, semua bercampur jadi satu. Dari foto yang saya kirimkan, dokter hewan langganan bilang, puppy tewas karena masalah pernafasan. Terlihat dari jasadnya yang cepat membiru sesaat setelah tidak bernafas lagi. Bisa jadi karena gagal jantung, atau terinjak induknya.

DSC_4594

Well.. I can’t say anything anymore. Just… farewell, puppies… I’m sure both of you are happy now up there…
And still I feels so sad, deeply broken heart, and angry *dunno why and to whom*

 

P.S: Thanks a lot, my dear great friend, Patricia, for all of your never ending support for us 🙂 #hugs

Advertisements

Protected: 10 Hari Pertama Shane Fisioterapi

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: He is special, and still I love him so much!

This content is password protected. To view it please enter your password below:

“Sebisa mungkin, anak-anak JANGAN SAMPAI kena luka bakar… “

Mungkin banyak yang nggak tau, beberapa hari sebelum Shane genap berusia 1 tahun, dia dapat musibah. Hari itu, Shane dan Keith dijemput untuk diajak main di rumah neneknya. Sejam kemudian, tiba-tiba Shane pulang sambil digendong dan menangis keras. Ternyata, kelalaian penjagaan yang HANYA beberapa detik, membuat Shane sukses melangkah ke dispenser kabel yang listriknya tercolok, pencet tombol air panasnya (dispenser model lama yang nggak ada kuncinya), dan byurrr… tersiramlah tangan kirinya dengan air panas sepanjang sekitar 10cm, dari pertengahan jari tengah sampai ke pergelangan tangannya…

Image

Hasil perban rumah sakit

Di rumah, sempat kusiram lagi dengan minyak tawon, tapi Shane sudah keburu kesakitan, tangannya sama sekali nggak bisa kupegang. Plus luka bakar yang nggak langsung diobati, ditambah jeda dari rumah kerabat ke rumahku membuat luka bakarnya makin menjadi panasnya. Beberapa menit kemudian, kami putuskan untuk bawa Shane ke rumah sakit. Di rumah sakit, langsung ditangani di UGD. Luka bakarnya dikasih salep Burnazin yang konon katanya lebih bagus daripada Bioplacenton yang selama ini sudah terkenal OK untuk luka bakar, kemudian diperban biar nggak kena kotoran di perjalanan pulang. Sayangnya, petugas UGD nggak memberitahu bahwa perban itu nggak boleh dilepas. Malah saya diperintahkan melepas perban setelah sampai di rumah. Nggak ada informasi juga bahwa luka bakar itu nggak boleh kena air sama sekali. Sore pas mandi, ya kumandikan Shane seperti biasa karena anaknya juga sudah tenang, nggak terlihat kesakitan lagi. Dan… luka bakarnya sukses melepuh!

Image

Mulai melepuh

Besoknya, kembali ke rumah sakit lagi, dan kali ini langsung dirujuk ke poli bedah. Yup, poli bedah, bukan poli kulit dan kelamin. Kenapa? Karena poli kulit dan kelamin tidak menangani luka bakar (saya juga baru tau pas itu). Di poli bedah, dokter spesialisnya ngomel karena lengan Shane nggak diperban dan kena air pas mandi. Ngomel balik lah saya karena saya cuma mengikuti instruksi yang diberikan di UGD dan nggak ada informasi untuk menjauhkan luka dari air. Selanjutnya, luka bakar Shane masih diobati salep yang sama, tapi diperban, biar nggak kena kotor di jalan maupun saat bermain. Mandi juga tangannya nggak boleh kena air dulu. Yang menyebalkan, biaya sekali balik ke RS untuk ganti perban itu, 80rb rupiah lebih!! Astagaa… dan itu harus diulang sekitar 2-4 hari sekali. Akhirnya saya dan suami putuskan untuk beli perlengkapan sendiri di apotek, ganti perban sendiri di rumah. Dengan begitu, perban bisa diganti sewaktu-waktu jika sudah kotor dan jauuuhhh lebih hemat.

Image

Hasil perban sendiri

Saya share disini ya step by step nya, just in case someday ada yang mengalami masalah serupa, jadi tau deh musti ngapain. Pertama, luka bakar dibersihkan dengan cairan NaCl, kemudian dikeringkan dengan tissue tebal (biar tissuenya nggak robek dan nempel di lukanya). Setelah kering, kasih salep tebal-tebal di semua bagian luka bakarnya, kemudian tutup dengan kassa steril yang dilekatkan dengan plester atau … . Setelah itu, bungkus lengan dengan perban, yang rapat dan rapi biar nggak ditarik-tarik sama anaknya dan lepas sana sini. Dah.. gitu aja. Nggak ribet sih sebenernya asal kita nya telaten dan nggak ngerian aja 🙂

Seminggu setelah kejadian, perban dibuka, lukanya amburadul menjijikkan karena lapisan kulit luarnya udah pada pecah semua. Dibersihkan sama suster (yup, kali ini harus balik lagi ke RS coz I don’t know exactly what should I do), dan voilaaa… bersihhhhh!! Tinggal beda warna aja karena lapisan kulit barunya masih merah. Salep diganti oleh dokter, pakai Mebo sekarang. “Salep selai kacang” kata dokter, soalnya bau dan teksturnya mirip selai kacang. Hahaha…

Image

Hari ke delapan… sebelum dibersihkan…

Image

Setelah dibersihkan…

Sebelum mengakhiri sesi jumpa dengan dokter bedah untuk yang terakhir kalinya, si dokter berpesan sesuatu yang saya rasa perlu saya share juga disini. “Saat menjaga anak-anak, harus benar-benar diperhatikan. Sebisa mungkin, anak JANGAN SAMPAI kena luka bakar. Kenapa? Karena luka bakar itu bahaya. Setelah luka bakar sembuh, akan timbul jaringan parut di sekitar bekas luka bakar. Itu yang sering kita sebut keloid. Misal dalam kasus ini, di pangkal jari tengah ini bisa tumbuh jaringan parut. Kalau dibiarkan, jari anak bisa terus kaku dan nggak bisa digerakkan lagi. Biarkan anak ini aktif menggerakkan jari-jarinya ya, biar jaringan parutnya nggak terus tumbuh sampai jarinya nggak bisa digerakkan”. 3 minggu kemudian, bersyukur sekali tangan Shane sudah nyaris pulih sepenuhnya. Kalau nggak diperhatikan bener-bener, nggak kelihatan kok kalau pernah heboh keguyur air panas. Hahaha… Praise The Lord!! 😀

Well, mommies and daddies yang mungkin membaca postingan ini, please remember several points below:

  1. Jangan pernah membiarkan dispenser, setrika nyala, water heater, kabel listrik, colokan listrik yg letaknya di bawah, atau apapun yang panas dan berbahaya (termasuk gunting, cutter, jarum, paku, pisau dan semua senjata tajam), berkeliaran di sekitar anakmu yang masih kecil. Colokan listrik mending dikasi pengaman, kabel listrik jangan sembarangan, dispenser mending jangan dicolok deh kalau nggak lagi butuh. Atau kalau dispensernya masih kuno, ganti beli yang baru aja yang ada kuncinya, dan jangan biarkan anak melihat bagaimana membuka kuncinya (jaman sekarang baaanyak anak cerdas yang bisa belajar cuma dengan sekali lihat).
  2. Jika terpaksa harus meninggalkan anak kecil untuk beberapa menit (atau mungkin beberapa detik), pastikan anak ada di tempat yang aman. Di lantai bawah bukan di atas kasur, di area yang bebas dari benda-benda yang berbahaya seperti yang saya sebut pada poin pertama. Kita tidak pernah tau bisa secepat apa anak kita bergerak saat kita tidak melihatnya.
  3. Selalu sedia obat-obatan di rumah, terutama obat-obatan yang sifatnya urgent. Kalau demam, batuk pilek, masih bisa menunggu 5 menit untuk beli obat di apotek terdekat. Kalau luka bakar, 5 menit saja sudah sangat berarti
  4. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak, jangan panik! Kepanikan tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik, malah akan semakin mengacaukaannya. Harusnya bisa langsung ditangani, malah jadi bingung muter sana sini dunno what to do. Anda memang tipe panikan? Belajarlah untuk lebih terkontrol! Susah? Iya! Tapi bukan berarti nggak mungkin kok. Selagi masih bisa, belajarlah untuk bisa lebih tenang menghadapi permasalahan 🙂

That’s all… semoga postingan kali ini berguna untuk semua.

Have a great day! 🙂

Help!!! Anakku Demam!!!

Sering dengan teriakan seperti di judul postingan kali ini? Saya sering.. Lebih sering lagi liat mommies yang pucet, panik, bingung, galau dan ga bisa tenang karena anaknya lagi demam. “Duh.. kok tinggi ya demamnya..”, “duh.. kok nggak turun-turun sih demamnya..”, “duhh… tadi abis diminumi obat udah turun lho.. kok sekarang demam lagi yah?”, “dok.. tolong dok.. anak saya sakit demam nih… 38 derajat loh, dok…”, dan masih baaanyak lagi kalimat-kalimat senada sering banget terdengar. Well, jaman anak pertama, saya dulu juga sering galau sih kalau anak lagi demam. Anget aja bawaannya kudu langsung cekokin parasetamol. Dalam 24 jam nggak turun, kudu cepet aja bawa ke dokter. Cuman… pengalaman pertama anak kedua saya kena demam, bikin pengetahuan saya berubah dan sudut pandang saya pun berubah…

Kebetulan sekali, Shane, anak kedua saya, anak full ASI sejak lahir. Jadi emang jarang sakit. Pertama kali dia sakit, saat dia berusia 3 bulan, di perjalanan balik ke Surabaya abis liburan seminggu di kampung, mendadak dia demam. Bingung deh semua. Mana hari Minggu, nggak ada dsa praktek kan. Di perjalanan, sempat mampir apotek untuk beli parasetamol dan obat cina. demam sempat turun sebentar, trus naik lagi. Sampai Surabaya, keluarga menyarankan langsung dirujuk ke UGD. Kaburlah ke UGD di RS Adi Husada Undaan sana. Dikasi obat, getting better. Malamnya, demam lagi. Dan Shane ini ternyata juga mewarisi habit saya kalo demam: nggak pake anget, langsung tinggi demamnya. Diantara kepanikan, sambil whatsapp an sama bestfriend, dia mengingatkan saya akan satu buku yang dia hadiahkan untuk saya saat Shane lahir. “Coba deh kamu baca-baca disitu, kali aja dapet pencerahan”. Buku yang dimaksud adalah “Q&A, Smart Parents for Healthy Children” dari Intisari *salah satu recommended book nih*. Penampakannya seperti di bawah ini (ambil dari URL orang, saya lagi di kampung pas menulis postingan ini, lagi nggak available buat motret buku saya sendiri). Dari buku inilah pengetahuan saya tentang demam jadi berubah…

Di buku ini dijelaskan, sebetulnya dalam istilah kedokteran, nggak ada yang namanya SAKIT DEMAM. Demam itu BUKAN suatu penyakit, melainkan reaksi tubuh terhadap benda asing (bakteri, virus, kuman, penyakit) yang masuk. Bahasa gampangnya, tubuh menyadari ada sesuatu yang asing yang masuk, jadi tubuh melakukan perlawanan untuk menghancurkan sesuatu yang asing itu tadi. Saat itulah suhu tubuh meningkat, jadilah yang namanya demam. Jadi, saat anak demam, sebetulnya orang tua nggak perlu kuatir, karena saat itu tubuh anak lagi berperang melawan kuman penyakit.

Yang perlu dilakukan adalah membuat agar anak tetap merasa nyaman dengan kondisinya yang pastinya sedang sangat tidak nyaman. Biasanya sih, saya tetap nyalakan AC dengan suhu yang asal sejuk, cuma biar anak nggak kepanasan aja. Selain itu, anak saya kompres sekujur badan dengan handuk hangat. Dulu saya suka kompres badan anak pakai alkohol 70%, tapi dokter bilang aromanya menusuk, bikin anak nggak nyaman juga. Jadi ya sudahlah, air hangat plus handuk saja. Jangan sekali-sekali berusaha menutup rapat-rapat anak yang sedang demam dengan harapan dia bakal berkeringat dan demamnya hilang. Ditutup rapat-rapat (pake baju lengan panjang, celana panjang, jaket, selimut, kaos kaki pula) malah akan membuat panas tubuh nggak bisa keluar.

Kalau demam sudah 38 derajat Celcius keatas, parasetamol boleh diberikan. Udah minum obat, stengah jam kemudian, lega karena demam sudah turun. Dua jam kemudian, suhu badan anak naik lagi. Lho kok??! Eitss… jangan panik lagi. Ya iya lah, demam yang tadi turun kan karena anaknya minum parasetamol, sementara aslinya, ‘perang’ di badan menghadapi kuman penyakitnya kan belum selesai. Jadi efek parasetamol habis, ya demamnya terasa lagi. Yang perlu diingat, parasetamol diberikan normalnya selisih 6 jam setiap pemberiannya. Jika diperlukan, bisa diberikan 4 jam sekali, tapi tidak lebih dari 5 dosis dalam 24 jam.

Sahabat sejati saat anak demam

Sahabat sejati saat anak demam

Demam yang patut diwaspadai adalah demam yang tinggi banget (diatas 38.5 derajat Celcius pada umumnya, tapi tergantung daya tahan setiap orang juga. Anak-anak saya masih bisa bertahan di suhu 39 derajat Celcius), yang dikhawatirkan adalah kejang akibat demam tingginya. Konon, katanya bakal memberikan efek negatif ke anak itu sendiri. Saya sendiri nggak pernah googling sih efek negatifnya seperti apa, saya cukup berusaha menjaga demam anak tetap terkontrol dan mencegah kejangnya. Satu lagi, demam diatas 5 hari, wajib hukumnya untuk cek darah. Dokter sih biasanya menyarankan cek darah setelah 3 hari. Tapi seorang dokter langganan keluarga pernah bilang ke ipar (yang juga calon dokter), bahwa cek darah setelah 5 hari demam akan menunjukkan indikator yang lebih tepat tentang sakit seseorang (biasanya sih typhus atau demam berdarah).

Satu lagi, soal pemberian obat. Belakangan saya baru tau setelah seorang teman yang berprofesi sebagai dokter dan seorang teman lagi yang kuliah di bidang farmasi, memberikan informasi tentang obat terutama yang berbentuk sirup. Ternyata, obat yang berbentuk sirup sebaiknya diberikan dalam satu periode anak sakit saja. Jika anak sudah sembuh dan obatnya masih sisa, sebaiknya disimpan di kulkas dan tidak digunakan dalam jangka waktu sebulan, sebaiknya dibuang. Lebih bagus lagi kalau anak sudah sembuh, sisa obatnya langsung dibuang. Obat sirup mudah terkontaminasi dan rusak kena pengaruh suhu dan penyimpanan yang tidak aman. Lha kalau kapan-kapan sakit lagi? Ya beli lagi obat yang baru, yang masih segel dan exp date nya masih lama. Lebih baik buang sisa obat seharga sekian belas / puluh ribu daripada membahayakan anak kan 🙂

Semoga informasi  yang saya tuliskan disini berguna dan bisa sedikit mengurangi kegalauan ibu-ibu yang anaknya sedang demam. Semoga anak-anaknya lekas sembuh juga… 🙂

 

Have a great day! 🙂

I’m Back!! And so Grateful! *with report from attending Hi-5 show*

Pertama, mau treak dulu, “Yeah!! I’m back!!!” *kretek kretek pinggang, pinggul, jari, lengan…*. Hahaha… Beberapa hari lalu pas lagi asyik ngobrol di group, tiba-tiba salah satu teman ngomongin sesuatu yang mengingatkan aku bahwa aku punya blog, bahwa blog ku sudah laaaama tak tersentuh. Seketika langsung bangun, nyalain laptop, ketik URLnya (untung masi inget), masukin username sama passwordnya (yang untung juga masi inget), dan taraaaaaaaaa………. last post: 30 March 2013. OMG… almost a year!!! *tepok jidat*

Yeaaaah… kesibukan nyaris setaun bikin lupa beneran deh soal ngeblog. Maapkaaaannn… *sembah sembah*. Ini aja meski udah tersadarkan setelah nyaris setaun pingsan, ya tetep nggak bisa langsung ngepost. Hari ini disempat-sempatin deh, mumpung anak-anak lagi nggak di rumah, mumpung kerjaan juga lagi nggak banyak. Setelah sadar kalo udah setaun nggak nge-post, jadi sadar juga, banyak banget yang terjadi dalam setaun terakhir. Anak udah dua, Keith udah umur 3 tahun (nggak sempat nge-post juga), Shane almost a year old, udah nggak ada maid lagi di rumah, saya udah bergabung dengan bisnis baru juga dalam 6 bulan terakhir, udah install BBM (eh?!), bergabung sama group MOM di BBM juga (I promise I’ll post about it later!), dan masih baaanyak lagi… *tarik nafas, bikin list judul dulu*. Dan pada akhirnya, saya benar-benar saaaaangat bersyukur dengan semua yang sudah terjadi, yang sudah kami alami dan kami miliki hingga sekarang… 🙂

Sekarang… lagi pengen cerita soal having fun kami sekeluarga hari Jumat kemarin dulu deh.. Jadi ceritanya, hari Jumat tanggal 14 Maret 2014 kemarin, kami sekeluarga ke Tunjungan Plaza sejak siang (sesuatu yang langka terjadi, ke mall di hari kerja, siang pula!), demi nonton Hi-5! Mulai tanggal 12 kemarin ada Hi-5 show di Surabaya, di Convention Center Tunjungan Plaza tepatnya. Saya taunya juga baru bulan lalu, pas diajakin mertua ke TP, sejak masuk parkiran mobil udah ada bannernya tuh gede, HI-5! Keith yang liat langsung teriak-teriak, “Mami Hi-5!!! mau liat mau liat!!!”. Nah loh… ngeliat anak sampe antusias kayak gitu, mommy mana sih yang tega say NO? Apalagi ini kan momen jarang-jarang :D. Akhirnya langsung cari tau soal show nya. Ternyata, musti kumpulin stamp dulu baru bisa beli tiketnya. 1 stamp bisa didapat dengan belanja sebesar 250rb rupiah. Nah, kebetulan juga, malam itu mertua lagi belanja sandal, abis 500rb sekian. Jadilah dapet 2 stamp. Berhubung udah malem, loket penjualan tiket udah tutup. Pulanglah dengan bawa 2 stamp dulu…

Tiketnya ada 3 macem: Platinum, Gold dan Silver. Rencana awalnya sih mau duduk di kursi silver aja, 150rb rupiah per orang. Tapi pas lagi antre di loket buat beli tiket seminggu kemudian, ada yang bilang klo taun lalu, dia beli tiket silver, dan nggak keliatan panggung. Cuma liat dari screen aja. Lhee… mending nonton di rumah aja dong kalo gitu.. Akhirnya ya sudahlah.. demi anak, beli tiket gold deh. Dua? Oh tentu tidak… TIGA! Lho iya dong.. kan sama papinya anak-anak… ENGGAK! Tiga itu buat saya, Keith dan Shane. Shane?? Iyaaa… under 1y juga bayar full. Pokoknya 1 kepala bayar 1 tiket. Sadis ya? Iya… hiks… Sempat juga ada teman yang bilang, “kok belani amat sih beli tiket mahal-mahal gitu”. Ya elaaahhh… saya kerja kan ga cuma buat makan, tapi juga buat anak. Pengen dong sesekali nyenengin anak… alhasil, pas tiket udah di tangan, rasanya puuuuas bangettt… *jujur aja, 250rb (dikali tiga) itu beneran bukan duit kecil sebenernya buat saya*

IMG_20140217_122453

Pas hari H, show mulai jam 2 siang, tapi jam 12 udah berangkat dari rumah. Kenapa? Soalnya di tiket nggak ada nomor seat. jadi tetep aja musti cepet-cepetan cari tempat strategis buat nonton enak. Belom lagi, dari hari Rabu kemarin, mendadak mertua mentitahkan suamiku untuk cari satu tiket lagi, suami disuru ikutan nonton. Untungnya masih kebagian 1 tiket lagi, beli pas hari H sebelum masuk. Sampe disana, kelar beli tiket, pas pintu ruangan dibuka. Langsung kebut masuk dan puji Tuhan bisa dapet kursi paling depan di deretan Gold. Keith awalnya mau-mau aja disuruh duduk di kids area. Tapi begitu acara mulai, sound bum bum bummm kenceng… Keith langsung nangis minta duduk bareng kami lagi. hahaha… ya sudahlah. Untung aja dapet kursi depan juga 😀

Yang enggak banget tuh meet n greet nya. Gila, sejuta setengah bok!! cuma buat 3x jepret sama semua personil Hi-5! Sampe yg beli tiket kutanya, “nggak dapet makan malam sekalian tah?”, dan si bapak cuma ketawa aja >.<. Keith & Shane pass dulu foto bareng Hi-5 nya. Kalo taun depan mommy nya ada rejeki lebih lagi yaaa… let see dah. Hahaha… Kesan pertama ngeliat Lauren, Dayen, Mary, Ashley dan Stevie: “OMG, they are soooo skinny!!!” Serius, biasanya kan yang di TV malah lebih kurus, lebih cakep, lebih putih dari aslinya. Yang ini kebalik, aslinya malah lebih kuuurus dari yang di TV. Beneran melongo dah… Overall, show nya OK, hebat deh mereka bisa dancing, singing, acting sampe 1 jam nonstop gitu (meski terakhir-terakhir ya beneran keliatan capeknya). Keith betah lho duduk diam satu jam penuh (yes, kami nonton last show nya dan satu jam full tanpa jeda) nonton mereka perform. Biasanya klo di rumah padahal ya demen liat nyanyi nya doang. Pas ceritanya ya ditinggal entah ngapain. Beneran jadi terharu banget deh, bangga & puasss gitu bisa ngajakin anak nonton favorit mereka. Dan saking interestnya kmaren, sampe blas nggak inget untuk sekedar foto2 disana, plus buat diupload disini (lagi-lagi karena kelamaan uda ga nge-blog) *tepokjidat lagi*.

Show time

Show time

Kelar nonton Hi-5, lanjut ke American Grill. Udah laaaaamaaaaa pengen tau rasanya makanannya American Grill. Kemaren akhirnya keturutan. Lagi kaya? Enggak! Malah lagi bokek polpolan karena bulan ini belom gajian. Kemaren makan disana pake voucher yang uda dibeli di disdus sejak 3 bulan lalu. Lagi-lagi sama sekali nggak inget buat foto-fotoin makanannya dulu sebelum disantap, kali ini faktor kelaparan sih penyebabnya. Steaknya enaaak… salad bar banyak macamnya, enak-enak juga, Shane abis bubur ayam 2 mangkok disana, dan Keith happy banget sama dessert eskrim coklatnya yang yummyyy…IMG_20140314_160403

 

Well… mungkin bagi sebagian orang, nonton Hi-5 & makan di Amgrill emang hal yang udah basi, udah biasa banget, tapi beneran itu something special buat kami. Pada akhirnya, beneran bersyukur bersyukur dan bersyukuuurrr sekali untuk semua pencapaian yang kami alami sampai saat ini. Semoga ke depannya semua akan semakin dan semakin baik lagi… ^^

Have a great day! 😉

Farewell My Rooster… Be Happy Now… :)

We called it Aping. Seekor ayam jantan yang kudapat dari papi lebih dari 5 bulan yang lalu. Dengan perawakan yang besar dan gagah, tampak begitu menarik dan berbeda dengan ayam-ayam jantan lainnya. Kami pelihara karena Keith, anak semata wayangku sangat menyukai ayam. Sampai disini, dia menempati kandang burung beo milik mertua. Namun beberapa hari kemudian, suami merasa kasihan melihat dia begitu sesak di kandang beo yang sempit itu. Jadilah dia dibuatkan kandang baru yang lebih luas dan lega.

Hampir setiap sore dia keluar dari kandangnya dan jalan-jalan di sekitar rumah sini, tak jarang juga menghabiskan waktu bersama anjing-anjingku dan kadang juga dikejar-kejar anakku. Tiap malam, jika mendengar anakku menangis, si aping pasti ikut terbangun dan berkokok. Suara kokokannya begitu nyaring hingga terdengar sampai lebih dari separoh panjang gang tempat kami tinggal. Setiap pagi, ada saja anak tetangga yang menyempatkan diri melihatnya saat mereka jalan-jalan, entah bersama kakeknya, ibunya, bahkan juga bersama pembantunya.

ImageImage

Kamis sore, 1 Maret, dia juga masih keluar, keluyuran di luar rumahku bersama dua anjingku. Masih sehat dan baik-baik saja. Hingga keesokan harinya, kulihat dia duduk saja di kandangnya. Hingga agak siang, masih juga tak beranjak dari tempat duduknya, sambil diare tak kunjung berhenti. Makin siang, makin lemas keadaannya hingga kuputuskan untuk masuk ke dalam kandangnya dan memberikan obat serta makan dan minum untuknya. Kenapa aku yang masuk ke kandangnya? Karena aku tidak sanggup mengangkat dia keluar. Agak sore, suami pulang bawa obat dan vitamin. Kembali kami memberi dia obat, makan dan minum. Sempat terlihat sedikit segar meski tak bertahan lama.

Sore, saat aku mengantar putraku keluar rumah untuk pergi ke rumah mertuaku, kulihat Aping menutup matanya, tapi masih bernafas. Kuputuskan duduk di dekat kandangnya, lalu kufoto dia dengan ponsel yang saat itu ada di genggamanku. Satu jepretan, dia membuka mata. Satu jepretan lagi, dia melihat ke arahku, kemudian dengan ajaibnya dia menggerakkan sayap kanannya padaku. Senang sedetik, kemudian dia menunduk, tak lagi bernafas, dan pelan-pelan matanya tertutup… selamanya… Reaksiku? Tak perlu ditanyakan, aku langsung menangis sejadi-jadinya… T.T

The last second in it's life... T.T

Saat itu, hingga beberapa hari berikutnya, ada saja yang mencibir, bilang aku lebay bahkan juga terang-terangan mentertawakan aku yang menangisi kepergian seekor ayam. HANYA seekor ayam? Ya… seekor ayam, tapi bukan HANYA bagiku… Sampai detik aku menulis ini pun, air mata masih mengalir mengenangnya, dan aku masih selalu kesepian tiap terbangun tengah malam karena tak lagi mendengar suaranya…

Farewell, Aping... T.T

02.03.2012 16.45 – Farewell my rooster… I know I should be happy coz you are happy now, free from your sickness and got a better place than here. But we love you, and can’t be denied, we lost you. I miss you, I miss your voice, I miss you so much…

Have a nice day…

Makan Malam? Jangan Lupakan Aturan-Aturan Tak Tertulis yang Ada…

Semalam aku baru saja menghadiri sebuah undangan pesta pernikahan dari kerabat kerja mertua. Berhubung suami kerja juga membantu orang tuanya, maka suami pun kebagian undangan. Jadilah kami pergi berlima semalam. Sejak pertama datang, semua nampak baik-baik saja. Namun sedikit demi sedikit kuperhatikan dari awal hingga akhir, sampailah aku pada beberapa poin yang menggelitik untuk kutulis di blog kali ini. Read more…

Chicken : New Member of My House

Berbeda dengan libur Lebaran selama 5 tahun terakhir, libur Lebaran kali ini, dengan sangat bahagianya bisa kuhabiskan dengan menikmati kedamaian di kampung halamanku sendiri, Probolinggo. Bersama anak dan suami, kami memilih menghabiskan seminggu liburan ini di rumahku daripada melakukan perjalanan ke luar pulau yang notabenenya jauh untuk anak usia 10 bulan, apalagi jika harus menumpang mobil yang penuh sesak plus jumlah barang bawaan yang bisa dibawa pun terbatas. Read more…

[relationship] Sendal dan Ideologinya Dalam Hubungan Antara Pria dan Wanita

Hari Minggu kemarin, pembicara di tempat ibadah yang kuikuti membahas topik menarik tentang permasalahan umum yang sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Dan dari semua yang beliau bicarakan, aku tertarik saat dia membahas tentang ideologi sandal terhadap hubungan khusus antara pria dan wanita. Menurut sang pembicara, hubungan khusus antara seorang pria dan wanita itu sama seperti sepasang sendal. Mengapa demikian?

PERTAMA, antara satu dengan yang lain, PASTI berbeda. Lihat saja sepasang sendal, masing-masing sisi pasti didesain berbeda, satu untuk kaki kiri, dan satu untuk kaki kanan. Jika sampai sepasang sendal didesain sama persis, entah sama-sama kiri ataupun sama-sama kanan, maka sendal tersebut tidak akan bisa dipergunakan dengan baik. Begitu juga dengan hubungan antara pria dan wanita. Pada dasarnya, pria dan wanita diciptakan MEMANG berbeda. Sang pembicara mengungkapkan sebuah contoh sederhana seperti berikut. Wanita diciptakan dengan 20000 oksitosin setiap harinya, sementara pria hanya 7000. Jadi jika istrimu cerewet, dengarkan sajalah. Tidak selamanya hal tersebut adalah buruk. Para pria diciptakan dengan oksitosin lebih sedikit untuk mengimbanginya, karena jika dua-duanya cerewet, siapa yang akan didengarkan? Jangan lagi complain mengapa istrimu begitu cerewet atau mengapa suamimu begitu pendiam. Karena Tuhan MEMANG menciptakan kita begitulah adanya.

KEDUA, sepasang sendal, antara kiri dan kanan pasti tidak akan sama dalam berjalan. Saat sendal kiri melangkah, sendal kanan pasti diam berpijak pada tanah, dan sebaliknya. Demikian juga pria dan wanita. Tidak hanya desain mereka saja yang berbeda, namun juga isi otak dan cara berpikir mereka. Dan itu semua tentunya berpengaruh pada cara mereka menjalani hidup, memandang suatu permasalahan dan mencari jalan keluarnya. Pada umumnya, pemikiran pria lebih terkotak-kotak, terstruktur dan mengarah pada masa depan dan malas mengingat segala sesuatu yang telah lewat. Sedangkan wanita diciptakan untuk selalu mengingat masa lalu juga, dan itu berguna untuk mengimbangi pola pikir pria yang bertolak belakang. Wanita jadi bisa mengingatkan pria untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang terjadi di masa lalu, atau untuk tetap percaya bahwa mereka bisa tetap survive seperti yang lalu-lalu.

KETIGA, meskipun sendal kiri dan kanan pasti berbeda baik bentuk maupun tindakannya, namun sendal kiri dan kanan pasti selalu berjalan bersama mencapai satu tujuan. Demikian pula dengan kehidupan pria dan wanita. Sepasang pria dan wanita, pastilah berbeda baik fisik maupun pemikirannya. Namun diatas semua perbedaan itu, mereka tetap memiliki satu tujuan akhir yang sama. Itulah sebabnya mereka tetap berjalan bersama meski diantara mereka terdapat begitu banyak perbedaan. Dan ingatlah, jangan membuang waktu terlalu lama untuk seseorang yang bahkan tak punya tujuan yang sama dengan kita. Itu jelas berarti dia bukanlah pasangan yang sudah disiapkan Dia untuk kita.

Dan yang KEEMPAT, tak peduli semahal apapun sendal itu, semewah apapun sendal itu, seindah apapun sendal itu, jika satu hilang, maka yang lainpun jadi tidak lagi berguna. Begitu juga dengan manusia. Masing-masing dari diri kita memiliki keindahan dan potensi yang memang tampak dan bisa dilihat oleh orang lain meskipun kita sedang sendiri. Namun dengan bersatu dengan pasangan kita, kita akan menjadi sempurna. Mengapa? Karena pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan membuat kita lebih indah, lebih berguna, dan lebih sempurna…

Setiap orang adalah malaikat yang hanya memiliki satu sayap.
Dan kita hanya bisa terbang dengan saling memeluk
(Luciano de Creschenzo)

Have a nice day…

Post Navigation