Ay's Blog

Another Side of My Life…

Makan Malam? Jangan Lupakan Aturan-Aturan Tak Tertulis yang Ada…


Semalam aku baru saja menghadiri sebuah undangan pesta pernikahan dari kerabat kerja mertua. Berhubung suami kerja juga membantu orang tuanya, maka suami pun kebagian undangan. Jadilah kami pergi berlima semalam. Sejak pertama datang, semua nampak baik-baik saja. Namun sedikit demi sedikit kuperhatikan dari awal hingga akhir, sampailah aku pada beberapa poin yang menggelitik untuk kutulis di blog kali ini.

Well… jika kita menghadiri sebuah jamuan makan, tentunya ada aturan-aturan tak tertulis yang perlu kita perhatikan dan tidak bisa kita abaikan begitu saja. Masih masabodo jika undangan itu dari keluarga dan kita semeja dengan orang-orang yang notabenenya adalah keluarga kita sendiri atau teman-teman dekat yang memang sama-sama *gila*. Tapi kalau kita duduk semeja dengan orang-orang yang bahkan tidak kita kenal? Hmm… IMO, sebaiknya jangan lupakan beberapa poin di bawah ini :

1. Bawa gelasmu jika memang kau ingin pindah meja.
Di pesta-pesta jaman sekarang, sudah lazim jika di undangan sudah ditetapkan bahwa si A akan diduk di meja X, si B dan si C duduk di meja Y dan seterusnya. Tapi ada juga penyelenggara yang tidak peduli dengan penataan dan pembagian (yang seharusnya mempermudah dan menguntungkan pihak penyelenggara) semacam itu, seperti pesta semalam. Tanpa ada tulisan kita duduk di meja mana, membuat para tamu jadi seenak sendiri untuk berpindah-pindah meja. Sudah duduk disini, air minum sudah dituang, tiba-tiba melihat rekannya di meja lain, dan mereka pindah begitu saja dengan mengabaikan gelas minuman mereka yang tertinggal. Hmm… apa susahnya sih pindah dengan membawa gelas sendiri? Nggak perlu memikirkan untuk menukar gelas kosong di meja baru ke meja lama karena itu bisa minta tolong pada pelayan. Setidaknya, meja lama bisa langsung ditempati orang baru tanpa perlu bingung orang lamanya bakal balik kesitu lagi atau nggak.

2. Gunakan peralatan yang tersedia untuk mengambil makanan.
Semestinya ini benar-benar peraturan tak tertulis yang sudah ada dari jaman kita masih anak-anak. Jika makan bersama, ambillah ikan dengan menggunakan sendok yang tersedia memang untuk mengambil ikan. Dengan kata lain, jangan asal comot pakai sumpitmu (apalagi yang sudah *ternoda*), apalagi dengan tangan. Namun entah mengapa, sampai malam ini, masih saja aku melihat ada orang-orang yang mengabaikannya, entah memang karena tidak tau, atau tidak peduli. Dan yang lebih disayangkan, yang mengabaikannya justru golongan tua-tua. Beberapa kali ada orang-orang semejaku yang mengambil makanan dengan sumpit mereka masing-masing, bahkan lebih parahnya, ada juga yang mengambil garam untuk pelengkap menu ayam goreng dengan TANGAN! Yeah… tangan! Jempol dan telunjuk menjepit garam dan kemudian diletakkan di piringnya. Dan orang tersebut mengambil garam tersebut pada kesempatan pertama, dengan kata lain, yang lain belum ambil dan terpaksa harus ambil garam bekas *sentuhan* tangan orang itu. Astagaaa… #tepokJidat

3. Ingatlah, yang makan bukan cuma kita.
Ada kalanya menu yang dihidangkan memang menu favorit kita. Atau mungkin kita memang sudah setengah mati kelaparan sehingga serasa sanggup menghabiskan satu porsi besar yang semestinya untuk 10 orang itu sendirian. Tapi jangan lupa, masih ada sembilan orang lagi di meja kita yang juga *setidaknya* ingin mencicipi menu tersebut. Ada baiknya jika kita mengambil secukupnya. Dan jika memang setelah semua mengambil dan masih ada sisa, barulah sah saja jika kita mau jadi *tong sampah penghabisan*. Apalagi untuk beberapa menu yang dalam sekali lihat saja, kita sudah tau bahwa satu porsi menu tersebut bisa dibagi rata untuk sejumlah orang di meja itu. Misalnya, satu porsi udang berisi 10 ekor. Dan jika memang mejamu terisi penuh 10 orang, tau dirilah untuk mengambil hanya satu ekor untuk satu orang. Tidak ada yang salah dengan makan enak atau makan banyak, tapi setidaknya janganlah menghalangi berkat orang, kecuali kita mau dibilang rakus… 😉

4. Jangan membuat berantakan meja dengan tulang, tissue atau apapun sisa makanan.
Menu ayam goreng, burung dara, ikan laut dan sejenisnya, tentu akan *menciptakan* sampah tersendiri berupa tulang belulang yang tak mungkin termakan. Belum lagi jika sumpit sudah tak mampu membantu kita makan, tangan dan jari-jari kita adalah pilihan terakhir dan terbaik. Sasaran selanjutnya? Tentu saja tissue basah. Tidak ada yang salah dengan *menciptakan* sampah saat kita makan. Tapi ada baiknya jangan letakkan sampah-sampah itu di meja makan tanpa alas. Taruhlah di sisi piring, dan jika piring menu sudah akan diganti oleh pelayan, lemparkan saja sampah-sampah itu disana. Dengan meletakkannya di atas meja tanpa alas, meski posisinya dekat dengan kita, tetap saja sedikit banyak itu akan mengganggu pemandangan, setidaknya pada orang yang duduk tepat di sebelah kita.

5. Jangan mengecap berlebihan dan jangan bersendawa keras-keras.
Ingat lagu anak-anak dengan lirik seperti ini : “Banyak-banyak makan jangan ada sisa, makan jangan bersuara…”. Yeah… Mungkin memang bukan masalah besar, tapi ada orang-orang tertentu yang terbiasa dengan budaya sopan, akan merasa sangat terganggu apabila kita mengecap makanan dengan menimbulkan bunyi yang berisik. Apalagi jika kita bersendawa keras-keras di depan banyak orang. Masih bagus jika orang yang terganggu masih bisa menahan diri. Jika tidak? Pernah kutemui sendiri ada orang yang sampai berhenti makan dan meninggalkan tempat hanya karena rekan semejanya makan dengan *berisik* dan bersendawa keras-keras. Euh…

Well… lima poin diatas aku yakin betul sebenarnya sudah kita ketahui sejak dulu. Namun ada kalanya, kita mengabaikan atau tidak peduli dan menganggap itu semua adalah hal sepele yang tidak penting. IMO, sebaiknya kita hati-hati dan sadar diri jika kita sedang ada di lingkungan bersama dengan orang-orang yang tidak begitu kita kenal. Bukan meminta kita untuk jaim atau tidak jadi diri sendiri, tapi kita perlu menghargai orang lain dan menjaga sopan santun agar orang lain tidak merasa terganggu dengan keberadaan dan perbuatan kita.

Ujian karakter yang sejati bukanlah berapa banyak yang kita ketahui dalam melakukan berbagai hal, tapi juga tentang bagaimana kita bersikap
(John Holt)

Have a nice day…

Single Post Navigation

7 thoughts on “Makan Malam? Jangan Lupakan Aturan-Aturan Tak Tertulis yang Ada…

  1. Wah,km ga bisa pesta di banjar lek gitu ay. Hahahahaha.

  2. Numpang lewat….mak sliwerr~…..

  3. Ada lagi…. Dahulukan yg lebih tua. Klo ada om2 tante2 yg semeja ama kita, biar mereka duluan yg ambil makanannya, barulah kita. Klo ini sih kynya berlaku jg pas makan di rumah, uda ajaran ortu semenjak kita kecil, kan?

  4. klo di Thai, ngambil makanan pake sendok kita sendiri…gilo memang, tp adat e merek kek gt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: