Ay's Blog

Another Side of My Life…

Farewell My Rooster… Be Happy Now… :)


We called it Aping. Seekor ayam jantan yang kudapat dari papi lebih dari 5 bulan yang lalu. Dengan perawakan yang besar dan gagah, tampak begitu menarik dan berbeda dengan ayam-ayam jantan lainnya. Kami pelihara karena Keith, anak semata wayangku sangat menyukai ayam. Sampai disini, dia menempati kandang burung beo milik mertua. Namun beberapa hari kemudian, suami merasa kasihan melihat dia begitu sesak di kandang beo yang sempit itu. Jadilah dia dibuatkan kandang baru yang lebih luas dan lega.

Hampir setiap sore dia keluar dari kandangnya dan jalan-jalan di sekitar rumah sini, tak jarang juga menghabiskan waktu bersama anjing-anjingku dan kadang juga dikejar-kejar anakku. Tiap malam, jika mendengar anakku menangis, si aping pasti ikut terbangun dan berkokok. Suara kokokannya begitu nyaring hingga terdengar sampai lebih dari separoh panjang gang tempat kami tinggal. Setiap pagi, ada saja anak tetangga yang menyempatkan diri melihatnya saat mereka jalan-jalan, entah bersama kakeknya, ibunya, bahkan juga bersama pembantunya.

ImageImage

Kamis sore, 1 Maret, dia juga masih keluar, keluyuran di luar rumahku bersama dua anjingku. Masih sehat dan baik-baik saja. Hingga keesokan harinya, kulihat dia duduk saja di kandangnya. Hingga agak siang, masih juga tak beranjak dari tempat duduknya, sambil diare tak kunjung berhenti. Makin siang, makin lemas keadaannya hingga kuputuskan untuk masuk ke dalam kandangnya dan memberikan obat serta makan dan minum untuknya. Kenapa aku yang masuk ke kandangnya? Karena aku tidak sanggup mengangkat dia keluar. Agak sore, suami pulang bawa obat dan vitamin. Kembali kami memberi dia obat, makan dan minum. Sempat terlihat sedikit segar meski tak bertahan lama.

Sore, saat aku mengantar putraku keluar rumah untuk pergi ke rumah mertuaku, kulihat Aping menutup matanya, tapi masih bernafas. Kuputuskan duduk di dekat kandangnya, lalu kufoto dia dengan ponsel yang saat itu ada di genggamanku. Satu jepretan, dia membuka mata. Satu jepretan lagi, dia melihat ke arahku, kemudian dengan ajaibnya dia menggerakkan sayap kanannya padaku. Senang sedetik, kemudian dia menunduk, tak lagi bernafas, dan pelan-pelan matanya tertutup… selamanya… Reaksiku? Tak perlu ditanyakan, aku langsung menangis sejadi-jadinya… T.T

The last second in it's life... T.T

Saat itu, hingga beberapa hari berikutnya, ada saja yang mencibir, bilang aku lebay bahkan juga terang-terangan mentertawakan aku yang menangisi kepergian seekor ayam. HANYA seekor ayam? Ya… seekor ayam, tapi bukan HANYA bagiku… Sampai detik aku menulis ini pun, air mata masih mengalir mengenangnya, dan aku masih selalu kesepian tiap terbangun tengah malam karena tak lagi mendengar suaranya…

Farewell, Aping... T.T

02.03.2012 16.45 – Farewell my rooster… I know I should be happy coz you are happy now, free from your sickness and got a better place than here. But we love you, and can’t be denied, we lost you. I miss you, I miss your voice, I miss you so much…

Have a nice day…

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: