Ay's Blog

Another Side of My Life…

“Sebisa mungkin, anak-anak JANGAN SAMPAI kena luka bakar… “


Mungkin banyak yang nggak tau, beberapa hari sebelum Shane genap berusia 1 tahun, dia dapat musibah. Hari itu, Shane dan Keith dijemput untuk diajak main di rumah neneknya. Sejam kemudian, tiba-tiba Shane pulang sambil digendong dan menangis keras. Ternyata, kelalaian penjagaan yang HANYA beberapa detik, membuat Shane sukses melangkah ke dispenser kabel yang listriknya tercolok, pencet tombol air panasnya (dispenser model lama yang nggak ada kuncinya), dan byurrr… tersiramlah tangan kirinya dengan air panas sepanjang sekitar 10cm, dari pertengahan jari tengah sampai ke pergelangan tangannya…

Image

Hasil perban rumah sakit

Di rumah, sempat kusiram lagi dengan minyak tawon, tapi Shane sudah keburu kesakitan, tangannya sama sekali nggak bisa kupegang. Plus luka bakar yang nggak langsung diobati, ditambah jeda dari rumah kerabat ke rumahku membuat luka bakarnya makin menjadi panasnya. Beberapa menit kemudian, kami putuskan untuk bawa Shane ke rumah sakit. Di rumah sakit, langsung ditangani di UGD. Luka bakarnya dikasih salep Burnazin yang konon katanya lebih bagus daripada Bioplacenton yang selama ini sudah terkenal OK untuk luka bakar, kemudian diperban biar nggak kena kotoran di perjalanan pulang. Sayangnya, petugas UGD nggak memberitahu bahwa perban itu nggak boleh dilepas. Malah saya diperintahkan melepas perban setelah sampai di rumah. Nggak ada informasi juga bahwa luka bakar itu nggak boleh kena air sama sekali. Sore pas mandi, ya kumandikan Shane seperti biasa karena anaknya juga sudah tenang, nggak terlihat kesakitan lagi. Dan… luka bakarnya sukses melepuh!

Image

Mulai melepuh

Besoknya, kembali ke rumah sakit lagi, dan kali ini langsung dirujuk ke poli bedah. Yup, poli bedah, bukan poli kulit dan kelamin. Kenapa? Karena poli kulit dan kelamin tidak menangani luka bakar (saya juga baru tau pas itu). Di poli bedah, dokter spesialisnya ngomel karena lengan Shane nggak diperban dan kena air pas mandi. Ngomel balik lah saya karena saya cuma mengikuti instruksi yang diberikan di UGD dan nggak ada informasi untuk menjauhkan luka dari air. Selanjutnya, luka bakar Shane masih diobati salep yang sama, tapi diperban, biar nggak kena kotor di jalan maupun saat bermain. Mandi juga tangannya nggak boleh kena air dulu. Yang menyebalkan, biaya sekali balik ke RS untuk ganti perban itu, 80rb rupiah lebih!! Astagaa… dan itu harus diulang sekitar 2-4 hari sekali. Akhirnya saya dan suami putuskan untuk beli perlengkapan sendiri di apotek, ganti perban sendiri di rumah. Dengan begitu, perban bisa diganti sewaktu-waktu jika sudah kotor dan jauuuhhh lebih hemat.

Image

Hasil perban sendiri

Saya share disini ya step by step nya, just in case someday ada yang mengalami masalah serupa, jadi tau deh musti ngapain. Pertama, luka bakar dibersihkan dengan cairan NaCl, kemudian dikeringkan dengan tissue tebal (biar tissuenya nggak robek dan nempel di lukanya). Setelah kering, kasih salep tebal-tebal di semua bagian luka bakarnya, kemudian tutup dengan kassa steril yang dilekatkan dengan plester atau … . Setelah itu, bungkus lengan dengan perban, yang rapat dan rapi biar nggak ditarik-tarik sama anaknya dan lepas sana sini. Dah.. gitu aja. Nggak ribet sih sebenernya asal kita nya telaten dan nggak ngerian aja 🙂

Seminggu setelah kejadian, perban dibuka, lukanya amburadul menjijikkan karena lapisan kulit luarnya udah pada pecah semua. Dibersihkan sama suster (yup, kali ini harus balik lagi ke RS coz I don’t know exactly what should I do), dan voilaaa… bersihhhhh!! Tinggal beda warna aja karena lapisan kulit barunya masih merah. Salep diganti oleh dokter, pakai Mebo sekarang. “Salep selai kacang” kata dokter, soalnya bau dan teksturnya mirip selai kacang. Hahaha…

Image

Hari ke delapan… sebelum dibersihkan…

Image

Setelah dibersihkan…

Sebelum mengakhiri sesi jumpa dengan dokter bedah untuk yang terakhir kalinya, si dokter berpesan sesuatu yang saya rasa perlu saya share juga disini. “Saat menjaga anak-anak, harus benar-benar diperhatikan. Sebisa mungkin, anak JANGAN SAMPAI kena luka bakar. Kenapa? Karena luka bakar itu bahaya. Setelah luka bakar sembuh, akan timbul jaringan parut di sekitar bekas luka bakar. Itu yang sering kita sebut keloid. Misal dalam kasus ini, di pangkal jari tengah ini bisa tumbuh jaringan parut. Kalau dibiarkan, jari anak bisa terus kaku dan nggak bisa digerakkan lagi. Biarkan anak ini aktif menggerakkan jari-jarinya ya, biar jaringan parutnya nggak terus tumbuh sampai jarinya nggak bisa digerakkan”. 3 minggu kemudian, bersyukur sekali tangan Shane sudah nyaris pulih sepenuhnya. Kalau nggak diperhatikan bener-bener, nggak kelihatan kok kalau pernah heboh keguyur air panas. Hahaha… Praise The Lord!! 😀

Well, mommies and daddies yang mungkin membaca postingan ini, please remember several points below:

  1. Jangan pernah membiarkan dispenser, setrika nyala, water heater, kabel listrik, colokan listrik yg letaknya di bawah, atau apapun yang panas dan berbahaya (termasuk gunting, cutter, jarum, paku, pisau dan semua senjata tajam), berkeliaran di sekitar anakmu yang masih kecil. Colokan listrik mending dikasi pengaman, kabel listrik jangan sembarangan, dispenser mending jangan dicolok deh kalau nggak lagi butuh. Atau kalau dispensernya masih kuno, ganti beli yang baru aja yang ada kuncinya, dan jangan biarkan anak melihat bagaimana membuka kuncinya (jaman sekarang baaanyak anak cerdas yang bisa belajar cuma dengan sekali lihat).
  2. Jika terpaksa harus meninggalkan anak kecil untuk beberapa menit (atau mungkin beberapa detik), pastikan anak ada di tempat yang aman. Di lantai bawah bukan di atas kasur, di area yang bebas dari benda-benda yang berbahaya seperti yang saya sebut pada poin pertama. Kita tidak pernah tau bisa secepat apa anak kita bergerak saat kita tidak melihatnya.
  3. Selalu sedia obat-obatan di rumah, terutama obat-obatan yang sifatnya urgent. Kalau demam, batuk pilek, masih bisa menunggu 5 menit untuk beli obat di apotek terdekat. Kalau luka bakar, 5 menit saja sudah sangat berarti
  4. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak, jangan panik! Kepanikan tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik, malah akan semakin mengacaukaannya. Harusnya bisa langsung ditangani, malah jadi bingung muter sana sini dunno what to do. Anda memang tipe panikan? Belajarlah untuk lebih terkontrol! Susah? Iya! Tapi bukan berarti nggak mungkin kok. Selagi masih bisa, belajarlah untuk bisa lebih tenang menghadapi permasalahan 🙂

That’s all… semoga postingan kali ini berguna untuk semua.

Have a great day! 🙂

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: