Ay's Blog

Another Side of My Life…

Archive for the month “December, 2015”

A Post To Remember The Puppies…

Barb

Namanya Barbie, kami ‘adopsi’ sejak berusia sekitar 2 bulan, 3 tahun yang lalu. Kenapa Barbie? Nama di aktenya adalah “Barbie von Viro”, dan sejak awal kami tidak berniat untuk mengubahnya lagi. Barbie memiliki fisik yang kecil, lebih kecil dibandingkan chihuahua sejenisnya. Sejak awal hingga sekarang, sudah 4x dia melewati fase melahirkan, namun selalu berakhir dengan menyedihkan…

Kehamilannya yang pertama, sempat di USG. Hasil USG mengatakan memang ada janinnya, tapi ternyata hingga hari H, tidak ada satu ekorpun puppy yang dilahirkan, hingga kelamaan perutnya kempes dengan sendirinya. Dokter bilang, mungkin hamil anggur. Kehamilan kedua, sempat di USG lagi. Kenapa di USG? Mengikuti saran dokter hewan langganan kami, karena si Barb terlalu kecil, jadi sebaiknya di USG. Just in case janinnya sungsang, bisa langsung dilakukan tindakan caesar daripada membahayakan nyawa induk dan baby nya. USG kedua, hasilnya dibilang hamil anggur lagi. Jadi saya juga santai tenang-tenang saja di rumah meski tanggal sudah menunjukkan 2 bulan sejak pembuahan terjadi.

Hingga di siang hari, saat sedang sibuk bekerja di kamar seperti biasa, saya mendengar Barb menggonggong tiada henti. Masih dengan alasan sibuk dengan pekerjaan, saya memilih untuk bersikap cuek. Hingga 5 menit, gonggongan tidak juga berhenti. Saya putuskan menengok keluar sebentar, dan apa yang saya lihat sungguh mengejutkan. Seekor anak anjing di sisi luar kandang Barb dan Barb panik di dalam kandangnya. OMG!! Ternyata bukan hamil anggur, bayi anjing sungguhan lahir! Meski sudah terbiasa hidup serumah dengan anjing sejak kecil, belum pernah saya membantu anjing melahirkan, dan saya sama sekali tidak paham bagaimana harus mengurus baby anjing yang baru lahir. Dokter hewan langganan saya? Sedang di Jepang untuk studi dan saat itu tidak bisa dihubungi (mungkin sedang di kelas). Saya lihat, si baby sudah bersih. Saya coba susukan ke induknya, tidak bisa. Dan dia juga tidak banyak bergerak. Cemas, sayapun membeli susu formula dan kemudian saya minumkan ke baby dengan pipet, sedikiiiit demi sedikit. Dan meski sudah sesedikit mungkin, si baby tetap tidak bisa menerima dengan baik. Susu selalu keluar lagi dari hidungnya. Pendek cerita, baby meninggal 25 jam setelah kelahirannya.

Kehamilan Barbie yang ketiga, saya trauma. Nggak mau lagi USG. Mau lahir ya lahir, enggak ya sudah. Menjelang hari-hari persalinan, saya titipkan Barbie di dokter hewan langganan (yang sudah balik dari studinya di Jepang), dan ternyata bayinya sungsang! Terlalu lama tidak bisa keluar dengan utuh, akhirnya si bayi lahir sudah tanpa nyawa. Lagi-lagi kami kehilangan…

Kehamilan ke empat, 7 Oktober 2015 kemarin. Jujur awalnya kami sudah tidak banyak berharap. Dan dokter hewan langganan juga menyarankan si Barb melahirkan di rumah saja karena menurut dia, si Barb ini tipe anjing yang gampang stress. Lingkungan diluar rumah akan membuat dia semakin stress. Berbekal nasehat itu dan feeling bagus yang saya punya saat itu (entah bagaimana datangnya), kami memutuskan Barb tetap di rumah meski hari persalinan segera tiba. 7 Desember, berlalu begitu saja. 8.. 9.. hingga 10 Desember, siang hari, saya lihat dia mulai berputar-putar. Merasa saatnya segera tiba, saya segera meminta anak-anak saya untuk pergi tidur siang, berharap kehebohan mereka tidak membuat saya semakin panik. Namun apa daya, prosesnya begitu cepat. Dalam 10 menit, si Barb sudah mengeluarkan sesuatu sebesar telur ayam kampung. Saya amati, pantat! Yup, baby nya sungsang lagi!

DSC_4513

Panik langsung menyerang. Posisi saat itu, bayi baru keluar hingga batas pinggang, dan kantongnya masih utuh. Saya coba menghubungi dokter hewan langganan, gagal. Akhirnya saya menghubungi Om saya yang sudah berpengalaman membantu kelahiran anjing. Barb mengejan lagi, bayi keluar sedikit lagi dan berhenti sampai di leher! Makin panik? Jelas!! Apalagi kemudian Barb tampak kelelahan, diam terengah-enggah hingga nyaris menutup mata. Haiyah!! Kepala bayi masih di dalam, dan dengan posisi seperti itu, waktu hidupnya nggak lama. Kalau tidak segera keluar, bakal tewas bayinya. Ditarik juga nggak bisa. Untunglah beberapa menit kemudian, Barb kembali mengejan dan kali ini kepala sukses keluar. Segera kantong saya pecahkan sesuai instruksi Om saya, saya bersihkan bayinya sampai benar-benar bersih. Kemudian saya coba susukan ke induknya, dan bisa! Legaaaa…. benar-benar sangat lega!! Makin lega lagi setelah sekitar 2 jam kemudian saya lihat, si bayi sudah bisa menyusu sendiri pada induknya. Fiuhhh… Oh ya, puppy nya betina, lahir sekitar jam 12:40, dan bulunya putih mulus.

Suami saya datang, pasang lampu buat si puppy, trus elus-elus si Barb. Beberapa saat kemudian, suami menyadari bahwa si Barb mengejan lagi. Perut Barb mengeras dan dia mengejan berkali-kali. Ditunggu hingga nyaris 30 menit, tetap begitu tanpa kemajuan. Suami saya yang kelaparan karena belum makan siang, keluar beli makanan. 5 menit setelah kepergiannya, Barb melompat dari kardusnya (setelah melahirkan saya taruh dia di kardus karena khawatir puppy nya bakal jatuh lagi kalau ditaruh di kandang) dan lahirlah anak keduanya, 15:24. Kali ini nggak sungsang dan kelahirannya sangat mudah. Betina, bulunya putih dengan 3 totol hitam di punggung, mirip baby dalmatian. Segera saya bersihkan lagi, dan segera pula saya menyadari, ada yang salah dengan puppy yang kedua…

DSC_4539

Puppy kedua lahir tanpa bibir atas, dan tidak ada sekat antara hidung dengan mulutnya. Sedih? Pasti! Dan sesegera mungkin saya bersiap untuk kemungkinan terburuk. Sama seperti puppy pertama yang berhasil lahir di kehamilan Barb yang kedua, puppy ini juga tidak bisa menyusu pada induknya. Keesokan harinya, saya sempat mengambil donor ASI untuk puppy kedua. Saya coba pipetkan, dan seperti yang bisa diduga, keluar lagi lewat hidung.

DSC_4557

puppies

Menjelang sore, badan puppy kedua makin lemah. Sempat saya dan suami memberikan susu lagi untuknya dengan pipet. Si puppy di tangan suami, dan lidahnya masih bergerak meski sangat lemah. Kemudian dia terlihat mengeluarkan kotoran, sehingga saya minta suami mengembalikan ke kardus untuk dibersihkan oleh induknya. Namun ternyata, itulah saat terakhirnya. Hanya dalam hitungan beberapa menit, dia berhenti bernafas sekitar jam 17:37. Sedih, namun saya ikhlas. Sudah bersiap untuk  yang terburuk sejak awal, sudah mengusahakan semua yang terbaik, namun memang lebih baik dia pergi…

DSC_4585

Farewell kisses

Puppy pertama, rajin menyusu pada induknya, gerakannya juga lincah, sungguh menyenangkan. Saya percaya diri bahwa dia akan bisa survive dan sehat hingga dewasa. Hingga 14 Desember kemarin, sepulang menjemput anak saya dari sekolah, saya menyadari bahwa si puppy tidak selincah biasanya, malah cenderung lemah. Menit ke menit, makin lemah. Sempat saya berusaha memberi susu dengan pipet juga, namun secepat itu dia juga tidak bernafas. Dan kali ini, saya tidak siap! Down, shock, kecewa, marah, semua bercampur jadi satu. Dari foto yang saya kirimkan, dokter hewan langganan bilang, puppy tewas karena masalah pernafasan. Terlihat dari jasadnya yang cepat membiru sesaat setelah tidak bernafas lagi. Bisa jadi karena gagal jantung, atau terinjak induknya.

DSC_4594

Well.. I can’t say anything anymore. Just… farewell, puppies… I’m sure both of you are happy now up there…
And still I feels so sad, deeply broken heart, and angry *dunno why and to whom*

 

P.S: Thanks a lot, my dear great friend, Patricia, for all of your never ending support for us 🙂 #hugs

Post Navigation