Ay's Blog

Another Side of My Life…

Archive for the category “Relationship”

[relationship] Sendal dan Ideologinya Dalam Hubungan Antara Pria dan Wanita

Hari Minggu kemarin, pembicara di tempat ibadah yang kuikuti membahas topik menarik tentang permasalahan umum yang sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Dan dari semua yang beliau bicarakan, aku tertarik saat dia membahas tentang ideologi sandal terhadap hubungan khusus antara pria dan wanita. Menurut sang pembicara, hubungan khusus antara seorang pria dan wanita itu sama seperti sepasang sendal. Mengapa demikian?

PERTAMA, antara satu dengan yang lain, PASTI berbeda. Lihat saja sepasang sendal, masing-masing sisi pasti didesain berbeda, satu untuk kaki kiri, dan satu untuk kaki kanan. Jika sampai sepasang sendal didesain sama persis, entah sama-sama kiri ataupun sama-sama kanan, maka sendal tersebut tidak akan bisa dipergunakan dengan baik. Begitu juga dengan hubungan antara pria dan wanita. Pada dasarnya, pria dan wanita diciptakan MEMANG berbeda. Sang pembicara mengungkapkan sebuah contoh sederhana seperti berikut. Wanita diciptakan dengan 20000 oksitosin setiap harinya, sementara pria hanya 7000. Jadi jika istrimu cerewet, dengarkan sajalah. Tidak selamanya hal tersebut adalah buruk. Para pria diciptakan dengan oksitosin lebih sedikit untuk mengimbanginya, karena jika dua-duanya cerewet, siapa yang akan didengarkan? Jangan lagi complain mengapa istrimu begitu cerewet atau mengapa suamimu begitu pendiam. Karena Tuhan MEMANG menciptakan kita begitulah adanya.

KEDUA, sepasang sendal, antara kiri dan kanan pasti tidak akan sama dalam berjalan. Saat sendal kiri melangkah, sendal kanan pasti diam berpijak pada tanah, dan sebaliknya. Demikian juga pria dan wanita. Tidak hanya desain mereka saja yang berbeda, namun juga isi otak dan cara berpikir mereka. Dan itu semua tentunya berpengaruh pada cara mereka menjalani hidup, memandang suatu permasalahan dan mencari jalan keluarnya. Pada umumnya, pemikiran pria lebih terkotak-kotak, terstruktur dan mengarah pada masa depan dan malas mengingat segala sesuatu yang telah lewat. Sedangkan wanita diciptakan untuk selalu mengingat masa lalu juga, dan itu berguna untuk mengimbangi pola pikir pria yang bertolak belakang. Wanita jadi bisa mengingatkan pria untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang terjadi di masa lalu, atau untuk tetap percaya bahwa mereka bisa tetap survive seperti yang lalu-lalu.

KETIGA, meskipun sendal kiri dan kanan pasti berbeda baik bentuk maupun tindakannya, namun sendal kiri dan kanan pasti selalu berjalan bersama mencapai satu tujuan. Demikian pula dengan kehidupan pria dan wanita. Sepasang pria dan wanita, pastilah berbeda baik fisik maupun pemikirannya. Namun diatas semua perbedaan itu, mereka tetap memiliki satu tujuan akhir yang sama. Itulah sebabnya mereka tetap berjalan bersama meski diantara mereka terdapat begitu banyak perbedaan. Dan ingatlah, jangan membuang waktu terlalu lama untuk seseorang yang bahkan tak punya tujuan yang sama dengan kita. Itu jelas berarti dia bukanlah pasangan yang sudah disiapkan Dia untuk kita.

Dan yang KEEMPAT, tak peduli semahal apapun sendal itu, semewah apapun sendal itu, seindah apapun sendal itu, jika satu hilang, maka yang lainpun jadi tidak lagi berguna. Begitu juga dengan manusia. Masing-masing dari diri kita memiliki keindahan dan potensi yang memang tampak dan bisa dilihat oleh orang lain meskipun kita sedang sendiri. Namun dengan bersatu dengan pasangan kita, kita akan menjadi sempurna. Mengapa? Karena pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan membuat kita lebih indah, lebih berguna, dan lebih sempurna…

Setiap orang adalah malaikat yang hanya memiliki satu sayap.
Dan kita hanya bisa terbang dengan saling memeluk
(Luciano de Creschenzo)

Have a nice day…

Cinta : Sudah Benarkah Cara Kita Mencintai?

“Aku cinta dia.. aku akan lakukan apapun agar dia bahagia.”

Sering dengar kalimat itu? PASTI… Begitu pula aku. Kalimat itu nggak hanya dilontarkan sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara, tapi sering juga dilontarkan orang tua pada anaknya, bahkan kakek nenek pada cucunya. Namun, yang jadi pemikiran sekarang, benarkah itu CINTA? Atau…
Well.. sebelum dijawab, coba lihat beberapa kasus di bawah ini, yang merupakan kejadian nyata yang terjadi di berbagai tempat di belahan bumi ini…

Seorang anak yang duduk di kelas TIGA SD, terbukti harus mengikuti 17 macam les dalam seminggu. Ya… TUJUH BELAS, yang berarti bisa 2-3 macam dalam sehari selama 7 hari berturut-turut. Mulai les pelajaran, les Inggris, les Mandarin, les vokal, les piano, les biola, les menggambar, les renang, les modelling, les balet dan entah les apa lagi *aku sendiri beneran udah lupa*. Si ibu berdalih itu demi kebaikan anaknya, karena dia cinta anaknya, maka berapa besarpun uang yang dikeluarkan untuk 17 macam les itu nggak dia pikirkan, asal anaknya jadi serba bisa. Pertanyaannya… bahagiakah si anak? Benarkah itu semua yang diinginkan si anak?

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Seorang rekan juga pernah curhat setelah habis beradu mulut dengan ibundanya. “Bete… Kemarin makan malem bareng keluargaku dan keluarga pacar. Tiba-tiba aja mama bilang sama mamanya pacarku kalo akhir taon nanti mereka bakal dateng melamar pacarku. Padahal baru semalem mamaku nanya soal aku uda sreg nggak sama pacarku, dan aku juga nggak bilang kalo aku siap untuk step lebih lanjut. Bukan nggak serius. Cinta sih cinta aku sama pacarku, tapi aku belom siap. Dan kalopun aku siap, aku pengen aku yang duluan ngomong sama pacarku kalo aku mau lamar dia, bukannya orangtuaku ke orangtua dia. Mama sih bilangnya demi kebahagiaan aku, tapi nyatanya aku malah tertekan sekarang…”.

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Seorang rekan suami juga pernah bercerita padaku, sejak kelahiran putri pertamanya, sang buah hati seolah langsung dikuasai si nenek. Memandikan, selalu dilakukan si nenek dengan alasan ibunya belum bisa, padahal seseorang yang baru jadi ibu tentunya ingin juga belajar dan punya pengalaman memandikan buah hatinya sendiri. Si nenek juga sangat senang sekali menggendong sang cucu, sehingga cucu pun sempat merasa lebih nyaman ada dalam gendongan neneknya daripada ibunya sendiri dan sang cucu jadinya sempat lebih memilih tidur dalam gendongan sambil ditimang2, drpd tertidur sendiri di kasurnya. Karena katanya si nenek lebih pengalaman, karena nenek cinta cucunya. Kenyataannya? Sang cucu sempat lebih memilih neneknya daripada ibunya sendiri. Itukah yang seharusnya terjadi?

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Salah seorang sahabat baik juga pernah berbagi dukanya, sebut saja X. Sejak kecil sampai dia berusia 14 tahun, orang tuanya selalu melarang dia untuk keluar rumah selain sekolah dan kursus. Alasannya? Karena orang tua cinta dia, takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, takut si X nggak konsen dengan pelajarannya. Jadi sampai usia 14 tahun itu juga dia sama sekali nggak pernah tau rasanya berteman diluar sekolah, pergi bersama teman, main bersama teman, kumpul-kumpul bersama teman, bahkan belajar bersama teman. Hingga saat usianya 14 tahun dan dia diutus orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, 5 orang teman dekatnya di sekolah berinisiatif untuk mengadakan farewell party di rumah salah seorang dari mereka, yang notabenenya, si pemilik rumah adalah dokter keluarga sahabatku ini. Orang tuanya tetap ngotot tidak memperbolehkan X pergi, sampai sang nyonya rumah menelepon orang tua X. Akhirnya X memang diijinkan pergi, tapi pesta sudah jadi muram karena bukan surprise lagi bagi X. Sampai disitu saja efeknya? Ternyata TIDAK. Si X nggak pernah tau rasanya kumpul bersama teman, nggak pernah tau rasanya nge-date dengan cinta monyetnya, bahkan saat dia sudah diluar negeri, dia sempat jadi anak yang paling kikuk dan kuper, dijauhi teman karena dianggap sombong, padahal yang sebenarnya adalah karena dia minder dan nggak tau bagaimana caranya berteman dalam artian sesungguhnya.

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Ada juga seorang ibu yang beradu mulut dengan suaminya sampai tiga kali, karena sang suami dengan semangat 45 begitu inginnya mengajak sang anak satu-satunya (yang masih berusia 8 bulan) pergi liburan ke Bali selama beberapa hari. Sang ibu berkeras menolak dengan berbagai pertimbangan matang. Perjalanan kesana memakan waktu yang tidak sebentar, beberapa hari disana dengan pagi sampai sore mengunjungi banyak tempat dan baru pulang sampai hotel sore menjelang malam, angin kencang dan hawa laut yang kurang baik untuk anak dibawah satu tahun, banyaknya barang-barang yang dibawa dan bikin mobil penuh yang pasti akan membuat perjalanan jadi nggak nyaman, nggak bisa bawa stroller karena mobilnya kecil. Tanpa stroller, si baby pasti akan lelah terus menerus digendong hampir sepanjang hari. Si ayah tetap berkeras mengatakan bahwa si anak bisa digendong bergantian, pengen ngajak anak biar anak senang, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya, siapa yang SEBENARNYA senang? Si anak atau ayahnya? Benarkah si anak akan senang dengan semua yang akan terjadi? Benarkah si anak akan senang dan mengerti apa itu Bali dan segala keindahannya? Akankah memory itu bisa tersimpan di dalam otak seorang anak yang bahkan satu tahun saja belum, sehingga saat besar nanti dia akan tetap ingat bahwa dia pernah dibawa ke Bali pada usia segitu?

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Readers, sering kali kita merasa apa yang kita lakukan sudah benar, demi seseorang yang kita cintai. Bahkan terkadang kita merasa kita telah mengorbankan waktu, tenaga, uang dan segalanya demi membahagiakan orang yang kita cintai. Tapi sering kali kita melihat itu semua HANYA DARI KACAMATA KITA, bukan dari kacamata orang yang kita cintai. Jika ada waktu, coba kita pikirkan, sudah benarkah cara kita mencintai selama ini?

Cinta merupakan serpihan-serpihan kecil tenggang rasa yang pada akhirnya kau runtuhkan dari batu granit egomu sendiri. Cinta merupakan penerimaan keterbatasan-keterbatasan secara perlahan-lahan – keterbatasanmu sendiri maupun orang-orang lain. Cinta berarti membuang beberapa ambisi yang pernah kau miliki bagi dirimu sendiri
(Arthur Gordon)

Have a nice day…

Support : Penting bagi Pasangan…

Beberapa minggu yang lalu, dikala sedang iseng baca-baca news feed di Facebook, mataku menangkap sebuah tulisan yang bagiku cukup menarik, yang ditulis oleh seorang mahasiswi berusia 20 tahun, seperti yang terpampang dibawah ini :

Beberapa hari kemudian, aku mendapat curhatan dari salah seorang teman baik, masih berkisar seputar topik yang sama…

“Bete gue… abis ribut sama pacar. Masa, tiap hari mintanya ditemeniiiiinnnn melulu. SMS, BBM, telpon, hampir tiap 5 menit selalu ada aja dari dia. Malem juga gitu. Nelpon ato video call tiap malem sampe gue ngantuk. Jadi sebel sendiri lama-lama. Kapan gue ada waktu buat beres-beres kamar? Kapan gue ada waktu buat masak? Gue juga masih pingin ngurusin tanaman-tanaman gue, pingin baca buku-buku yang uda sampe berdebu di pojokan kamar tapi bahkan belom keluar dari plastik pembungkusnya. Ga bisa jalan-jalan, ga bisa belanja, ga bisa ngembangin hobi, pingin nyoba ini itu juga nggak bisa…”

Hmm… jadi teringat masa lalu sendiri. Saat masih pacaran, saat masih duduk di bangku sekolah. Orang tua juga sering bilang, “sekolah jangan pacaran dulu, nanti nggak konsen belanjar, banyak ruginya, blablabla…”. Dan saat itu aku bisa membuktikan bahwa paradoks itu nggak selalu benar. Jaman sekolah, nilai-nilaiku tetap tinggi, nggak pernah lepas dari 5 besar, bahkan pernah duduk di puncak peringkat meski aku punya pacar. Kenapa? Karena aku makin konsentrasi di kelas, makin rajin mencatat, biar kalau sewaktu-waktu pacarku nggak ngerti tentang salah satu mata pelajaran, aku bisa jelasin ke dia. Bisa ngajarin dia = bisa ngabisin waktu bareng dia juga, dan menghindari kemungkinan dia bakal blajar ke cewek laen *kalo otaknya otak posesif*. Jaman kuliah, dekat dengan seseorang yang istimewa *meski nggak sampe pacaran* terbukti juga ampuh mengembalikan niat belajarku dan otomatis nilai-nilaipun jadi terdongkrak karena tingkat kerajinan ke-boost.

In my opinion sih, nggak selamanya pacaran itu merugikan, meski nggak selamanya juga pacaran itu menguntungkan. Kalo mau rugi, nggak perlu masih remaja, orang yang uda kerja pun bisa aja makin rugi saat pacaran. Bahkan yang sudah berumahtangga pun juga bisa rugi kalau cara dan sudut pandang kita dalam melihat suatu hubungan itu salah. Rugi atau enggaknya, sebetulnya tergantung pada bagaimana pasangan itu sendiri saling berkomitmen sejak awal, dan tergantung juga pada bagaimana mereka saling menjaga komitmen mereka selama mereka bersama. Setelah kurenungkan, aku sampai pada satu kata kurasa tepat menggambarkan apa yang dibutuhkan setiap pasangan biar nggak merasa kalo pacaran cuma bikin rugi aja, yaitu SUPPORT. Selama bersama, supportlah pasanganmu selama apa yang dia lakukan adalah hal yang positif. Pacaran nggak berarti harus selalu nyaris 24 jam bersama. Itu terpenjara namanya. Ada saat-saat masing-masing pribadi juga butuh menjalankan kehidupannya sendiri. Lagian… 24 jam bersama, apa nggak bosen tuh?

Mensupport nggak selalu berarti menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan pasangan untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi bia juga dilakukan dengan hal-hal kecil. Berikan ruang pada pasanganmu untuk bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan. Jangan ngambek kalau pasangan sesekali pingin hang out sama teman-temannya, jangan bete juga kalau pasangan sampe 3 jam nggak menghubungimu karena dia sedang sibuk membereskan kamarnya dan menyampul buku-bukunya. Jangan mendiamkan dia seharian keesokan harinya setelah semalam dia lupa meneleponmu untuk mengucapkan “selamat tidur” karena dia ketiduran saat membaca novel kesukaannya. Jangan terus memborbardir pasangan dengan telepon dan SMS selama dia sedang asyik belanja bersama mamanya. Menurutku, dengan tidak membebani pasangan saja, itu sudah merupakan suatu bentuk support.

Selama yang dilakukan pasangan bukan merupakan hal yang buruk, nggak ada salahnya kan? Kita juga nggak mau kan, punya pasangan yang minus pengalaman, minus teman, minus pergaulan, minus ketrampilan hanya karena dia terlalu banyak menghabiskan waktu bersama kita sehingga dia jadi nggak bisa mengembangkan diri? Dan terlepas dari semuanya, coba bayangkan jika kita yang diperlakukan demikian. Sanggupkah kita hidup dalam *penjara maya* seperti itu?

Segala macam hubungan antar manusia itu mirip pasir dalam genggamanmu. Jika berada pada telapak tangan yang terbuka, pasir itu akan tetap pada tempatnya. Namun jika kau kepalkan tanganmu erat – erat untuk mempertahankannya, pasir itu akan menyembur melalui sela – sela jarimu. Mungkin ada yang tersisa, tapi kebanyakan akan jatuh. Pacaran adalah seperti itu. Kalau dipertahankan dengan longgar, dengan menghormati dan membebaskan orang lain, hubungan itu akan tetap utuh. Tapi jika digenggam terlalu erat, terlalu memiliki, maka hubungan cinta itu akan terlepas dan hilang…
(Kaleen Jamison, The Nibble Story)

Have a nice day…

Jatuh Cinta… Berjuta Rasanya…

Judul postingan kali ini emang mengingatkan kita aku pada sebuah lagu entah judulnya apa dan siapa yang mempopulerkan *asli cuma tau sepenggal itu aja*. Jatuh cinta…berjuta rasanya… ah… siapa sih yang nggak pernah jatuh cinta? Hampir seluruh manusia di dunia pernah merasakannya… Entah jatuh cinta beneran, entah sekedar naksir, entah sekedar kagum…

Jatuh cinta, emang bikin perasaan selalu gembira… Membuat dunia serasa penuh warna, membuat setiap detik penantian serasa seabad, membuat otak jadi lebih kreatif melakukan hal-hal yang biasanya tak pernah terpikirkan, bahkan jatuh cinta membuat setiap orang berubah jadi pujangga… Simak saja beberapa ungkapan orang yang sedang jatuh cinta ini :

Aduh… lupa bikin pe er gue.. abisnya, semaleman gue ditelpon cowok gue sih… kita ngobrol ampe jam 3 pagi. Aaahhh… senangnyaaaa…….

Eh, gue minjem duit lo dong… gopeceng aja.. ntar gajian gue bayar kok. Gue mau beliin kado buat pacar gue nih…

Anterin gue ke mall dooong… mau blanja niiih… mo beli baju baru, parfum sama alat make up yang up-to-date nih… lusa gue mau nerima pernyataan cinta dari dia…

Well… OK, untuk kelas jatuh cinta tingkat dasar atau menengah, aku nggak komen. Tapi untuk jatuh cinta tingkat atas (baca : serius), IMO, dari pengalaman pribadi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipikirkan serta dipertimbangkan…

1. Cinta itu NGGAK buta.
Cinta itu buta. Siapa bilang??? Sebuah hubungan yang serius nggak akan bisa didapat dari sebuah cinta buta. “Pokok gue cinta dia. Titik. Yang lain bisa diatur”. Whoaaa… indahnya dunia jika memang semua semudah itu. Kenyataannya, jika diawal mungkin terlihat bisa, yang terjadi sebenarnya adalah kita sedang menanamkan bom waktu untuk diri kita sendiri, yang bisa dipastikan bakal meledak di kemudian hari. Tinggal tunggu waktu aja…

2. Komunikasi dan toleransi adalah yang terpenting.
Nggak ada masalah yang nggak bisa dibicarakan. Nggak ada perbedaan yang nggak bisa dijembatani. Tergantung sejauh mana kita mau membuka diri untuk membahasnya, dengan kepala dingin tentunya. Tiap orang punya pola hidup, batas toleransi dan kekhilafan masing-masing. Itu yang harus kita pahami sejak awal. Sebisa mungkin hindari salah paham, bicarakan perbedaan-perbedaan yang ada dan cari solusinya. Kalau memang tetap tidak ada jalan keluar, lebih baik pikirkan lagi jika tetap ingin meneruskan hubungan itu. Kesampingkan ego dan gengsi saat bicara dengan pasangan. Rasa tak mau kalah cuma bikin pasangan menilaimu makin rendah. Dan jika berbicara, perhatikan intonasi. Jangan menyinggung perasaan pasangan dan membuat suasana runyam hanya karena intonasi yang salah…

3. Kelanjutan hubungan adalah tanggung jawab bersama.
Namanya juga jalan bareng, mencapai satu tujuan yang sama. Sudah pasti tanggungjawab bersama juga untuk ikut berjuang mencapai 1 tujuan bersama yang sudah dibayangkan sejak awal menjalin hubungan. Jangan cuma si cowok aja yang kudu kerja rajin ngumpulin sesuap nasi dan segenggam berlian. Jangan cuma si cewek aja yang musti berusaha mengambil hati ortu pasangan. Lihat ke dalam diri masing-masing, sudahkah memberi yang terbaik? Dan berikan yang terbaik juga dengan ikhlas, jangan menuntut balasan. Akan lebih baik jika pasangan memberikan yang terbaik karena dorongan dalam hati, bukan karena membalas budi. Nggak usah kecewa jika pasangan dinilai tidak semaksimal diri sendiri. Tiap orang standartnya beda. Tetap nggak bisa terima? Bicarakanlah baik-baik… 🙂

4. Saling menghargai.
Tanamkan dalam hati, pria dan wanita itu sejajar. Meski dalam kenyataannya, pihak pria memang lebih dominan. Pihak pria memang masih jadi kepala, penentu keputusan, tapi jangan lupa, pasanganmu bukanlah dibawahmu. Dengarkan jika pasanganmu mengungkapkan pendapat. Terkadang, wanita lebih bisa melihat sesuatu dari sudut padang yang berbeda dan menawarkan solusi yang lebih baik. Nggak ada yang salah dengan mendengar. Jika tak setuju? Ungkapkan saja disertai alasan dengan intonasi yang baik. Selesai…

Jatuh cinta, sesungguhnya tidaklah seindah yang dibayangkan dan sesederhana yang diduga. Banyak hal yang harus diperhatikan di dalamnya. Salah melangkah bisa fatal akibatnya karena disini, hati yang dipertaruhkan. Orang bijak bilang,

Kalau tidak sakit, orang tidak akan menyebutnya JATUH cinta…

Dan aku sangat setuju dengan ungkapan itu. Sayang sekali saat aku menulis ini semua, aku sudah jauh melewati fase jatuh cinta. Karena itu sekarang aku hanya bisa menulis ini, berharap tulisan ini bisa sedikit memberi bekal pada mereka yang sedang jatuh cinta diluaran sana. Selamat jatuh cinta… tetaplah berusaha dalam kesadaran penuh, sehingga sakit yang kan kau rasakan tak begitu dalam… 🙂

P.S : congratulation for the new couple, Mr. H & Ms. S… we all know, the way is really not easy. But keep hold your hands together and learn from the past, both of you will be able to past all of the obstacle… God will lead you… ^^

Have a nice day…

Putus? Biasa Aja Kaleee…

Pacaran… Siapa sih yang nggak tau apa itu pacaran? Jaman sekarang, bahkan anak TK pun sudah tau istilah itu, meski tentu saja cuma cinta monyet. Dan yang namanya pacaran, emang lebih ke proses mengenal lebih dalam sekaligus menyesuaikan diri dengan pasangannya. Kalo cocok, ya lanjut. Kalo enggak? Ya putus… *eits… jangan protes dulu.. penulis juga tau yang namanya putus cinta itu nggak segampang yg diucapkan ^^*

Yang jadi fenomena saat sepasang kekasih memutuskan utk mengakhiri hubungan kasih diantara mereka, nggak cuma rasa sakit hati, tapi juga sering kali jadi ajang untuk saling menjelek-jelekkan mantan pasangan dan mengobral cerita diluaran, yang kadang bener-bener nggak bisa sepenuhnya dipertanggungjawabkan. Tujuannya? Ada yang bilang sakit hati ama mantannya, iseng, ada juga yg emang pingin jd pusat perhatian alias ngartis, ada juga yang berusaha mengumpulkan simpati orang *entah ujungnya untuk apa*, dan alasan paling sering : menjaga gengsi

Sebut saja beberapa ungkapan di bawah ini, yang paling sering terdengar saat seseorang mengobral cerita cintanya yg kandas :


GUE yang mutusin dia *dengan penekanan pada dirinya sendiri*

Iya.. putus.. tapi biar lah. Cewek gampangan gitu. Sebulan aja uda takluk abis-abisan kok dia ama gue..

Bah… plin plan dia… bilangnya cinta ama gue, tapi giliran gue ajak nikah, malah diulur-ulur. Padahal pembicaraan uda ada, gue uda mulai booking restoran dan lain-lain…

Aaah… cowok gampangan dia mah… gue deketin dia kan cuman demi duitnya aja. Klo ama orangnya mah… makasi deeeh…

Awalnya, aku biasa aja denger ungkapan-ungkapan sejenis diatas. Mungkin juga dulu aku pernah bertingkah konyol kayak gitu. Cuman lama-kelamaan jadi mikir juga… sebetulnya apa sih untungnya bertingkah demikian? Bukankah dengan bertingkah begitu, orang yang benar-benar berjiwa dewasa dan bijaksana jadi bisa menilai bahwa kita pun nggak lebih baik dari mantan pasangan kita?

Sebut saja dari contoh pertama, apa bisa dipastikan kalau yang memutuskan hubungan adalah pihak yang tidak bersalah? Belum tentu juga… Contoh kedua. Si cewek mungkin jadi dikenal orang sebagai cewek gampangan. Lalu si cowok? Apa nggak kemudian bakal dikenal orang sebagai cowok yang demen mainin cewek? Apa ga berarti bakal jelek juga di mata orang lain? Contoh ketiga. Kalaupun emang bener si cewek yang membatalkan, pasti ada alasannya dong… dan, yakin bukan dari si cowok juga akar masalahnya? Di contoh keempat juga si cewek yang bakal kena cap sebagai cewek matre. Lagi-lagi, bakal dihindari juga oleh orang-orang yang berniat cari pasangan serius…

Readers, seburuk apapun mantan kita, dia orang yang pernah begitu dekat dengan kita, menghabiskan waktu bersama kita, berbagi suka dan duka dengan kita. Mengapa tidak kita simpan saja kenangan indah itu dalam hati dan tidak menodainya dengan ungkapan-ungkapan yang tak perlu?

Have a nice day…

Relationship : Berbagi-pun Tetap Harus Ada Batasan

Sebagai sepasang kekasih, cowok dan cewek emang sudah selayaknya dan sewajarnya *bahkan mungkin seharusnya* untuk belajar saling berbagi. Mulai berbagi rasa, berbagi makanan, berbagi pengalaman, sampe berbagi duit *lho?*. Yah… intinya, mulai saling berbagi satu sama lain dalam suka dan duka. Namun, apa iya harus berbagi segala-galanya? Belakangan, aku menangkap ada satu tren berbagi yang kayaknya sedikit mengganggu dan secara tidak langsung jadi memberikan kesan buruk plus membuka kemungkinan terjadinya dampak negatif terhadap orang lain juga.

Sekitar tiga minggu yang lalu *dan baru sempat membahasnya sekarang*, saat aku lagi berkunjung ke rumah salah seorang sepupuku yang masih duduk di bangku kuliah, aku mendapati dia lagi asyik chat di kamarnya.  Bukan berniat mengamati, tapi nggak sengaja aja aku melihat ada yang aneh dari monitor laptop yang dia pakai untuk ber-chatting  ria.. Ternyata, dia asyik chatting dengan menggunakan ID pacarnya dan seolah-olah yang OL emang si pacar!!! Wew… Waktu kutanya sih, jawaban sepupuku simple “iseng aja”. Well, sederhana memang. Tapi setelah kupikir-pikir, sepertinya makna yang terkandung dari tindakan itu nggak se-sederhana itu. Dan semakin kupikir, sepertinya efek yang MUNGKIN terjadi juga nggak se-sederhana itu…

  • Pertama, dengan menggunakan ID pacar *yang 99% si pacar nggak tau kalo ID nya lagi dipake*, tertangkap kesan kalau kita nggak segitunya percaya sama pacar kita. Mengapa begitu? Dengan menggunakan ID pacar dan seolah-olah yang OL adalah pacar, kita pengen tau gimana reaksi teman chat nya kalo lagi chat sama pacar kita. Seperti pengen menguji, jangan-jangan ada teman dari pacar yang mesra-mesra ato manja-manja gitu kalo lagi chat sama pacar kita.
  • Kedua, dengan menggunakan ID pacar, bisa jadi kita melakukan tindakan yang pacar nggak suka kita lakukan. Misalnya, kita nggak sengaja ngajak chat orang yang mungkin nggak terlalu disukai oleh pacar kita, atau bahkan mungkin dihindari, tapi ID nya masih ada dalam list, just in case sewaktu-waktu butuh. Atau, kita jadi ngomongin hal yang semestinya nggak perlu diomongin pada salah satu teman pacar.
  • Ketiga, dengan menggunakan ID pacar, bisa juga menyulut salah paham terhadap orang yang lagi diajak chat. Dan kalau itu sampai terjadi, yang bakal kena getahnya adalah pacar yang ID nya lagi kita pake. Nah loh.. apa nggak cari masalah tuh namanya?

So, readers… sebenernya buat apa sih OL aja harus pake ID pacar dan berpura-pura jadi pacar? Pake ID sendiri aja lah… ^^

Have a nice day…

Status Unavailable : Warning Atau Tantangan???

Tak terasa, sudah awal bulan… sudah entah berapa lama blog ini terabaikan karena seabrek kegiatan plus kondisi badan yang ga memungkinkan akhir-akhir ini. Kali ini, mumpung ada waktu, pengen nulis tentang sesuatu yang uda lama banget sebenernya terpendam. Tiba-tiba aja tadi baca salah satu status di YM! yang membuatku teringat akan tema ini dan memutuskan untuk cepat-cepat menuangkannya sebelum hasrat itu menghilang LAGI entah kemana…

Siang ini, saat lagi nganggur menunggu tutor yang lagi istirahat, iseng aku lihat satu per satu shoutout-shoutout yang ada di list YahooMessenger! ku. Dan aku tertarik pada satu shoutout berikut ini *foto dan ID disamarkan demi menjaga privasi* :

Shoutout YM!

Wew…  emang sih, kalimat kedua menunjukkan kalo si penulis shoutout ngga ada maksud jelek… tapi tetep aja, kalimat pertamanya… ukh…!!!

Jadi inget juga, beberapa waktu yang lalu, saat kondisi aku sudah menikah, tiba-tiba seorang rekan lama menghubungiku, juga via YahooMessenger!, padahal saat itu jelas-jelas icon YM! ku sedang BUSY. Dan terjadilah chat singkat berikut ini :

Chat Log

Juz a joke? 90% iya… But, please deh… Apa nggak ada bahan lain yang bisa dibuat alasan untuk menyapa seseorang di YM!? Dan bagaimana jika bercandaan seperti itu disodorkan saat penerima benar-benar lagi sibuk dan unavailable untuk bercanda?

Lebih dari setahun yang lalu juga ada ada cerita nyata tentang seorang cewek yang masih saja mau menyerahkan diri pada cowok yang jelas-jelas dia tau sudah punya tunangan. Masih untung kalau nih cewek mau terus maju dan berjuang memperjuangkan CINTAnya (kalau emang yang ada itu bener CINTA, bukan cuman nafsu atau tantangan semata). Yang ada setelah menyerahkan diri dan merusak pertunangan orang, cewek ini juga berkeras nggak mau melanjutkan hubungan itu dengan alasan tolol : NGGAK PUNYA NYALI. Haizzz….. So? Buat kebanggaan aja?

Dan satu lagi kejadian yang serupa tapi tak sama menimpa salah satu teman baikku (cewek). Dia sudah punya pacar, dan selama ini, dia sama sekali nggak pernah berusaha menutupi kenyataan bahwa dia sudah punya pacar. Di Facebook nya jelas-jelas tertulis statusnya adalah “in a relationship”, foto-foto dia dengan sang pacar juga bertebaran disitu, nggak ada yang ditutup-tutupi. Beberapa bulan yang lalu, dia dapat undangan reuni SMA nya dulu. Dan disana, dia berkenalan secara nggak sengaja dengan sepupu dari seorang teman yang dibawa saat reuni SMA nya. After that, like usual, ngobrol ringan, saling add di FB, sampai akhirnya tukeran alamat YM! juga. Kebetulan dua-duanya emang maniak chatting dan YM! selalu nyala nyaris 24 jam. As a friend, temenku ini menyambut baik pertemanan yang disodorkan teman barunya ini. Dia pikir, toh di Facebook dll juga uda jelas tertulis kalo dia udah punya pacar. So, temenku ini nggak negative thinking kalo si cowok ini naksir dia.

Sejak tukeran alamat YM!, si cowok jadi intens menghubungi si cewek (temenku ini). Ngobrolin hal-hal sepele, mulai dari nanya uda makan ato belom lah, makan apa lah, dll dsb dst. Sejauh ini, temenku masih menanggapi biasa-biasa aja. Lagi-lagi karena si cewek menganggap si cowok hanya niat berteman baik aja, nggak lebih. Toh si cewek uda punya pasangan. Hingga suatu hari, si cewek mengganti profile picturenya di YM! setelah dia pulang candle light dinner bareng pacarnya. Beberapa menit kemudian, shoutout si cowok yang saat itu juga lagi OL tiba-tiba berubah, yang intinya menyiratkan bahwa dia shock, kecewa, dan menganggap semua usahanya sia-sia. Kemudian si cowok menghilang dan nggak pernah lagi menghubungi teman cewekku ini, sampai sekarang…

………………………………………..

Well… dari contoh-contoh diatas, aku jadi mempertanyakan satu hal, seperti yang tertulis di judul postingan kali ini : sebenernya, status unavailable dari seseorang itu, merupakan warning atau justru tantangan sih? Kenapa belakangan ini makin banyak aja orang-orang yang menganggap cewek yang uda punya pasangan itu justru merupakan tantangan tersendiri? Apa tren yang sekarang sedang berkembang, emang merupakan suatu kebanggaan kalo bisa merusak hubungan orang dengan pacarnya, merebut pasangan orang, bahkan merusak rumah tangga orang? Coz kejadian sejenis ini nggak cuman terjadi pada mereka yang dalam tahap pacaran, tapi seperti yang uda tertulis diatas, kejadian serupa juga terjadi bahkan pada pasangan yang uda tunangan, sampe berumahtangga sekalipun. Sebenarnya apa sih yang dibanggakan dari keberhasilan merusak hubungan seseorang dengan pasangannya? Dan apa juga sih yang dibanggakan dari suatu perselingkuhan? Apa jaman sekarang, yang seperti itu merupakan cara buat meningkatkan gengsi?

IMHO, dibanding bangga karena dikenal sebagai seseorang yang pernah selingkuh or pernah merusak hubungan orang, bukankah akan jauh lebih membanggakan jika kita dikenal sebagai orang yang sama sekali nggak pernah selingkuh, yang bisa menjaga kesetiaan, yang nggak pernah merusak hubungan orang dengan pasangannya? Masih bisa dimaklumi jika pelakunya adalah anak-anak SMP ato SMA yang emang nyalinya lagi tinggi-tingginya, lagi proses pencarian jati diri dan *kadang* mereka salah jalan. Tapi kalo pelakunya rata-rata uda dinilai dewasa dan memasuki dunia kerja? Apa ya masih pantas untuk main-main dan *uji nyali* dan berujung merugikan orang kayak gitu? Gimana seandainya suatu hari, hubungan dia sendiri yang dirusak oleh orang lain? Bagaimanapun juga, karma itu ada kan…? Aku juga tau, tua itu pasti dan dewasa itu pilihan. Tapi sekali lagi, please deh… Mau nggak dewasa, emang itu pilihan setiap orang. Tapi setidaknya, jangan merugikan orang lain lah. So readers… which one will you choose?

Have a nice day…

Surprise : A Little (or Big) Thing that Brighten The Receiver’s Day

Kejutan… siapa sih orang di dunia ini yang nggak suka dengan kejutan? Tentunya yang dimaksud disini adalah kejutan yang menyenangkan. Aku yakin, setiap orang *walau mereka bilang mereka nggak suka kejutan atau bereaksi biasa aja kalau dapat kejutan*, pasti dalam lubuk hatinya bakal merasa senang jika mendapat sebuah kejutan, dari siapapun. Entah itu dari teman, sahabat, keluarga, terlebih dari kekasih tercinta. Beberapa orang akan merasa bangga, tersanjung, diperhatikan bahkan terharu jika menerima sebuah kejutan.

Kejutan nggak harus diberikan saat moment-moment istimewa seperti yang sudah lazim dilakukan banyak orang. Mereka memberikan kejutan pada seseorang yang berulang tahun, menikah, merayakan anniversary, merayakan kelulusan, menyambut kelahiran bayi, dan event-event bahagia lainnya. Tapi nggak sedikit juga orang-orang yang memberikan kejutan di hari biasa. Dan BIASANYA, yang kayak begini malah meninggalkan kesan lebih dalam bagi penerimanya. Kejutan juga nggak harus diwujudkan dengan sesuatu yang mahal atau langka, tapi bisa juga dengan hal-hal kecil yang kelihatannya nggak berarti. Istimewanya sebuah kejutan : sekecil apapun kejutan itu, tetap akan memberikan makna lebih besar daripada wujud kejutan itu sendiri terhadap penerimanya.

Mantan pacarku *sekarang suamiku*, bukanlah sosok orang yang romantis. Namun terkadang, dia juga memberikan kejutan-kejutan kecil untukku. Kadang, dia bisa tiba-tiba nongol di depan pintu kost dengan membawa sebungkus es kacang ijo kesukaanku. Kadang dia bisa juga tiba-tiba nongol dengan membawa sebatang coklat. Cuma Silver Queen… harganya ataupun es kacang ijo yang cuma 4000 perak itu memang sepele, tapi kejutan sederhana seperti itu selalu saja menyenangkan.

Pernah juga tiba-tiba dia memberiku kartu Valentine yang dia desain dan cetak sendiri. It so amazing mengingat dia biasanya nggak suka hal-hal formal seperti itu. Di lain hari, saat kami melihat-lihat perhiasan untuk mencarikan kado sweet seventeen untuk adik iparku, mataku melihat sebuah anting yang sangat cantik. Ingin kubeli, tapi apa daya isi kantong tak mencukupi. Ternyata, sebulan setelah itu, anting cantik itu jadi hadiah Valentine darinya. 2 bulan yang lalu juga tiba-tiba dia membelikanku TIGA buah boneka baru. Cukup mengejutkan mengingat biasanya dia tak rela buang-buang uang untuk hal nggak penting kayak gitu…

Earring and Dolls

Atau seperti yang terjadi 3 hari yang lalu. Saat aku terbangun dari tidurku di tengah malam, tiba-tiba tanganku tak sengaja menyentuh sebuah benda yang terasa asing untuk ada di atas tempat tidurku. Setelah kulihat, ternyata sebuah earphone baru dari suamiku. Dia membelikannya untukku karena tau earphone yang biasa kugunakan telah rusak beberapa hari yang lalu. Dan lebih surprise lagi bagi kami berdua, karena di hari yang sama, siangnya, aku baru saja melakukan transaksi dengan seseorang untuk membeli sebuah sandal idaman suamiku untuk kuhadiahkan padanya. What a nice accidental… ^^

Earphone and Crocs

Akupun terkadang juga suka memberinya kejutan-kejutan kecil. Yang paling unik yang bisa kubagikan disini adalah ketika dia akan berangkat & tinggal selama beberapa hari di Banjarmasin untuk menengok neneknya yang sakit. Kuselipkan beberapa note kecil tersebar di beberapa tempat, misalnya : saku baju, dompet, sela-sela buku bacaan yang dia bawa, bahkan sampai di dalam kotak pasta gigi. Isinya? Just a simple words like : “I love u”, “do u miss me?”, “dream bout me, honey”, “call me…”, and kind of that… Sederhana, nggak butuh biaya banyak, tapi setidaknya mengingatkan dia padaku & membuatnya tergoda untuk mencari catatan2 kecil yang lain… 😉

Pernah juga aku membuat kejutan untuk papi mamiku dengan pulang kampung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tiba-tiba aja aku sudah nongol di depan pintu rumahku. Dan saat itu begitu tampak kegembiraan mereka bahkan melebihi biasanya kalau aku pulang kampung. Dan siang tadi juga aku baru saja mendapat kejutan dari seorang teman baik yang kemarin datang dari Banjarmasin. Begitu terharu melihat isinya. 10 sachet teh merk favorit dia dengan 5 varian plus satu set paket Cussons First Year New Mum yang seumur-umur baru kulihat dan aku juga nggak ngerti fungsinya apa *tentu saja sekarang uda ngerti coz uda aku baca bukunya*. LoL

Gift from QQ

………………………………………………………..

So, readers, buat Anda yang memang bukan tipe orang romantis, jangan pernah jadikan itu sebagai alasan untuk sama sekali nggak pernah terpikir untuk memberikan kejutan setidaknya bagi orang yang kau cintai. Juz a little-simple think, you’ll give a big happiness for someone that you love. Sebaliknya bagi Anda para manusia romantis, hati-hati juga. Jangan gampang ngasih surprise ke orang yang bukan pasanganmu… Bisa-bisa Anda malah membuatnya melambung tinggi, berharap, lalu patah hati… *ukh…*. Dan bagi Anda para penerima kejutan, sekecil apapun kejutan yang Anda terima, hargailah dengan sepenuh hati. Lihatlah makna dibalik kejutan yang sederhana itu, dan kita akan merasa sangat bahagia menerimanya…

Have a nice day…

Cowok & Cewek : Mungkinkah Tulus Bersahabat?

imho…buat aku, ce-co gak bisa jd sahabat, klo sekedar temen masih ok tp nggak lebih dari itu.

Aku membaca tulisan di atas dari salah seorang teman baik di salah satu postinganku, dan setelah membacanya, aku tertarik untuk membahas tentang hal tersebut lebih lanjut di postinganku selanjutnya (ya postingan yang ini). Well… hubungan antara dua jenis makhluk hidup yang diciptakan dengan derajat paling sempurna ini, entah kenapa dari dulu selalu sulit untuk dipahami dengan gamblang. Setelah membaca komen diatas, sebuah pertanyaan langsung terlintas di otakku : “apa benar cowok ama cewek nggak bisa jadi sahabat?”.

Jujur aja, sampe detik aku nulis ini, aku tetep nggak yakin dengan jawaban pastinya antara YA atau TIDAK, yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Dan kalo biasanya aku melakukan survey sebelum memposting sesuatu, kali ini kuputuskan sedikit berbeda. Biarlah postingan ini murni berisi pemikiranku dan pengalaman di sekitarku. Dan jika ada diantara readers yang ingin ikut buka suara memberikan pendapatnya, kolom comment di bawah masih selalu terbuka untuk menampung suara Anda… 🙂

Setelah kupikir-pikir, sejak kecil sampe sekarang, aku belom pernah punya sahabat cowok yang bener-bener deket banget dan bisa tetep murni sahabatan sampe akhir. Selama ini meski berteman dekat dengan cowok, selalu ada batasnya. Nggak pernah kontak fisik kecuali salaman ngasi selamat di event ultah ato kelulusannya, dan nggak pernah sampe segitunya mengenalku terlalu dalem ato tau rahasia-rahasia terdalamku. Waktu SD dulu, pernah ada seorang temen cowok, akrab, sering maen bareng, cerita-cerita bareng, tapi setelah duduk di bangku SMP, dia malah melontarkan pengakuan kalo dia naksir aku… Pertemanan jadi kacau balau karena cinta monyet nya bertepuk sebelah tangan, bahkan sempat musuhan putus komunikasi sama sekali ama dia selama 2 tahunan… *padahal masih sama-sama satu sekolah dan kadang masih satu kelas*

Di bangku SMA, nggak ada yang istimewa soal ini… Memang pernah dekat dengan beberapa cowok, tapi nggak sampe bener-bener layak dibilang sahabat, dan rata-rata nggak ada yang bener-bener pure mendekati tuk jadi temen baik ato sahabat juga. Ujung-ujungnya pasti ada feel lain. Pertama masuk kuliah, saat kegilaan ego dan adrenalin masih tinggi-tingginya khas anak muda, sempat dekat dengan satu cowok, sering curhat-curhat juga, dan ujung-ujungnya sama, he said that he love me. Semasa kuliah, sempet deket ama satu cowok juga, ujung-ujungnya malah jadi hubungan ‘kakak-adek’ ga jelas yang akhirnya juga berujung ‘perpisahan berkepanjangan’…

Menjelang lulus kuliah, juga sempat dekat dengan cowok, yang sejak awal aku murni menganggap dia temen baik, dan *kurasa* dia pun begitu. Tipe melankolis-phlegmatis yang kaku & dingin, uda punya pacar dan sama sekali jauh dari kesan pria ramah apalagi playboy. Hubungan bareng dia ya berjalan biasa aja. Nggak pake rayu2an, nggak pake gombal2an, nggak pake romantis2an. Makanya nggak salah dong kalo aku menganggap semua bener-bener murni temenan… Sampe setelah lulus kuliah, udah jaoh, dan dia udah mau merit ama pasangannya, barulah pengakuan itu terungkap. Bahwa sesungguhnya selama itu dia menyimpan perasaan yang lain terhadapku. Tapi dia mengambil keputusan bijak untuk tetap diam dan nggak memberitahuku apalagi menunjukkan & mengumbar perasaannya, demi hubungan pertemanan yang telah terjalin dan juga demi kebaikan bersama *I really appreciate it meski ujung-ujungnya shock dan sedikit kecewa juga karena tetep ada perasaan ‘tertipu’ dalam hati*.

Cerita lain yang kutau, nggak jauh-jauh dari lingkungan sekitarku sendiri : suamiku. Saat awal aku pacaran dengannya, baru kutau dia punya sahabat cewek yang sering curhat dan berbagi cerita bareng dia. Bahkan di bulan-bulan awal kami pacaran, sempat kutau cewek itu telepon pacarku *saat itu* dan curhat sampe jam TIGA PAGI. Phewww….. Sempat ngerasa nggak enak juga sih, cuman masih berusaha positive thinking aja. Dan kemudian si cewek ternyata lebih dulu mengambil inisiatif untuk menghubungiku, memperkenalkan diri padaku dan berusaha menjalin hubungan baik denganku. Kuakui, usahanya membuatku terkesan dan menghilangkan segala negative thinking yang ada di pikiranku. Malahan dia jadi lebih sering curhat ke aku dibanding ke pacarku lagi.. LoL

Sejak 2 tahun terakhir kuliah sampai saat ini sendiri, lingkungan sosialisasi terdekatku juga nggak melulu berisikan kaum perempuan. Ada juga beberapa cowok dan aku juga akrab dengan mereka, meski mereka juga masing-masing punya pasangan dan pasangan mereka juga tergabung dalam lingkungan sosialisasi terdekatku juga. Dengan para cowok itu sendiri hubungan yang terjalin memang akrab, sesekali memang sempat satu dua orang berbagi kisah atau masalah pribadi denganku. Tapi tetap aja ada batasannya…

So… setelah kupikir-pikir, IMHO, sebenernya bisa atau nggak cowok ama cewek bersahabat, itu tergantung dari dua hal. Pertama, sejauh apa batasan ‘sahabat’ itu sendiri? Apa sekedar akrab dan setiap hari ngobrol bareng itu uda termasuk kategori sahabat? Atau yang bisa dikategorikan sebagai sahabat itu harus sampai antara 2 orang merasa begitu nyaman satu sama lain hingga bisa berbagi cerita bahkan masalah-masalah pribadi? Dan yang kedua, tentu saja tergantung dari DUA pribadi yang menjalani. Apa mereka bisa terus mempertahankan perasaan mereka sebagai seorang SAHABAT? Untuk yang satu ini, harus diakui memang mudah diucapkan, tapi nggak mudah dijalankan…

Jadi… menurut readers sendiri, mungkinkah cowok dan cewek murni bersahabat…? 🙂

P.S : thanks to Ce Lanny for the undirect idea… ^^

Have a nice day…

Status Pasti : Teman, Sahabat, Pacar

Sering banget dalam kehidupan sehari-hari aku menjumpai dua orang beda gender (baca : cowok cewek) yang lengket banget, kemana-mana berdua. Dimana ada si A, disitu dipastikan hampir pasti ada si B. Ngobrol juga terkesan dekat dan intim, ngapa-ngapain hampir selalu bareng, tapi saat ditanya apa mereka pacaran, dijawab dengan senyam senyum:

“enggak kok… kita kan kakak adek doang…”

Dan dari pengamatan secara ga sadar ku, 100% 99% hubungan ‘kakak-adek’ macam itu berawal dari keakraban satu dengan yang laen, tapi kondisi nggak memungkinkan buat mereka untuk pacaran. Beberapa alasan klasik yang aku dengar dari mereka sih, alasan mereka untuk meng-ada-kan status kek gitu antara lain karena :

“aku nggak naksir dia kok… enjoy aja jadi temen deket dia, tak anggep adek”

“gue uda punya pacar… jadi ya gue anggep dia kayak adek aja”

“jiah… ogah ah pacaran ama sinyo-sinyo. mending jadi titi ku ae…”

“ada beberapa hal dari diri dia yang aku gak suka dan gak bisa terima kalo sampe dia jadi pacarku. jadi ya udah.. kakak adek an aja lebih asik”


Dan 99% dari hubungan ‘kakak-adek’ itu nggak bisa bertahan lama dan berubah jadi hubungan yang lebih dalam lagi. Alasan-alasan diatas akhirnya tertelan hilang lenyap tak berbekas dikala salah satu dari masing-masing ‘pasangan’ (atau dua duanya) mulai nggak bisa berpegang teguh pada pendirian semula (baca : jatuh cinta). Seperti pepatah kuno : “witing trisno jalaran soko kulino”, kalo kemana-mana bareng terus, ngapa-ngapain bareng terus, gimana gak mungkin kalo lama-lama salah satu (atau dua duanya) jadi nggak bisa nahan perasaan masing-masing dan saling jatuh cinta??? It’s OK kalo emang dua-duanya lagi jomblo. Kalo nggak? Wew… jadi masalah baru deh… *skip skip… ga mau ngomongin topik itu skarang*

IMHO, kebanyakan hubungan kayak gitu cuma bertujuan mencari keuntungan, kesenangan pribadi tanpa mau disalahkan oleh lingkungan luar atas apa yang kita lakukan terhadap ‘kakak’ ato ‘adek’ kita itu (meski sebenernya dalam hati kita juga mengakui kalo tindakan itu salah). Too vague? OK, mungkin penjelasan dibawah ini bisa sedikit memperjelas maksudku…………

Salah seorang teman dekat yang pernah menjalani hubungan seperti itu, pernah menceritakan hal ini padaku. Awalnya, dia (sebut saja X) dan si Y (‘kakak’ nya itu) sih cuman temenan doang. Si X uda punya cowok, si Y juga uda punya cewek. Dua duanya menjalin hubungan LD alias long distance. Berhubung satu kampus, satu jurusan, dan satu kelas, makin akrab lah mereka. Sampai akhirnya suatu ketika si Y bilang ama si X : “kamu jadi adekku aja ya…”. Sejak saat itu, resmilah hubungan mereka sebagai ‘kakak-adek’. Kemana-mana bareng, ngapa-ngapain bareng… Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka tiba-tiba jadi merenggang, nggak lagi terlihat bareng dimana-mana, nggak lagi terlihat bareng ngapa-ngapain, di kelaspun nggak lagi duduk bersebelahan. Si X akhirnya menceritakan yang terjadi. Ternyata, dia mengakhiri hubungan ‘kakak-adek’ dengan si Y. Alasannya :

“makin lama makin nggak jelas. Dan aku ngerasa jadi ada yang aneh dengan hubunganku ama dia. Kayaknya dia jadi naksir aku, atau jadi overprotected gitu sama aku. Aku mo blajar bareng temen cowok yang laen, dia ngambek. Aku mo ngapa-ngapain ama temen tanpa ngajak dia, dia sewot. Bahkan kadang kalo dia tau aku lagi jalan or telp or chat sama cowokku aja, dia juga kayak gak seneng hati gitu. Kalo emang dia nganggep aku adeknya, mustinya nggak gitu dong… Wong aku juga biasa aja kalo dia lagi ngapain ama ceweknya…”

Sampe situ, aku uda mulai mengernyitkan dahi mendengar cerita temanku itu. Apalagi setelah si X melanjutkan ceritanya kalo ternyata, si Y juga mulai melakukan kontak fisik ama dia selama hubungan ‘kakak-adek’ mereka itu. Yang gandeng tangan si X lah, yang ngerangkul si X lah, yang cipika cipiki lah… Dan saat si X melontarkan keberatannya, tau apa jawaban Y???

“Sekarang aku tanya, emangnya batas hubungan antara kakak sama adeknya tuh sejauh mana??? Apa salah kalo ada kakak gandeng adeknya? Apa salah kalo ada kakak peluk adeknya? Apa salah kalo ada kakak cium adeknya???”

Dhienkkk………. *speechless*. Setelah aku memikirkannya lebih dalam, emang nggak salah dengan kakak yang nunjukin sayang ato pedulinya ke adeknya dengan menggandeng, meluk ato bahkan nyium. Bahkan kalo dipikir, andai kepepet pun, tidur seranjang juga ga bakal ada yang nyalahin. IMHO, yang salah ya dua orang yang saling mempertautkan diri sebagai ‘kakak-adek’ itu tadi. Andai aku jadi ceweknya si Y, 100% aku bakal marah besar kalo aku tau si Y melakukan itu semua (meskipun alasan yang dipake adalah : “aku nganggep X itu adekku kok”). Dan semakin kupikir lebih dalam, aku nggak melihat alasan lain dari orang saling berhubungan sebagai ‘kakak-adik’ selain satu : menghalalkan perselingkuhan tersembunyi yang nggak pengen mereka akui (padahal jauh dalam hati aku yakin mereka menyadari itu).

Bukannya mengharamkan persahabatan ato hubungan dekat antara cowok-cewek selain sebagai status pacar, tapi *sekali lagi* IMHO, kalo emang mau pure berteman ato bersahabat baik pun, bisa kok tanpa perlu embel-embel status ‘kakak-adek’. Temen-temen baikku juga nggak melulu cewek, dan antara aku dengan sahabat cowokku juga semuanya terjalin secara normal dan nggak merasa status sebagai sahabat itu kurang hingga harus berubah status jadi ‘kakak-adek’. IMHO lagi, status kayak gitu cuma bikin pelakunya makin merasa dapet angin buat melakukan sesuatu yang seharusnya cuma dilakukan seseorang ke pasangannya or ke anggota keluarga RESMI mereka.

Readers, so sorry kalau postingan kali ini berakhir agak keras… Bukan maksud hati menyinggung perasaan siapapun, hanya ingin menyampaikan opini pribadi. Ada juga seorang teman yang bilang kalo dia juga pernah berhubungan ‘kakak-adek’ dengan seseorang, dan hubungan mereka tetep pure baik sampe sekarang. Jujur, aku sangat menghargainya karena bagiku itu hal langka. Karena itu juga lah sejak awal aku menyebut angka 99%, bukan 100%. Setiap orang berhak punya pendapat dan sudut pandang masing-masing. Aku menghargai setiap orang yang masih beranggapan hubungan ‘kakak-adik’ itu baik dan ga ada salahnya. Tapi sejak mendengar jawaban diatas, sepertinya aku sudah menetapkan hati untuk nggak akan beranjak dari sudutku sekarang saat memandang sebuah hubungan ‘kakak-adik’. It’s so foolish for me. Dan dalam kamusku, status tetep harus jelas : TEMAN, SAHABAT, atau PACAR, dan ga ada yang namanya ‘kakak-adek’ 🙂

Have a nice day…

Post Navigation