Ay's Blog

Another Side of My Life…

Cinta : Sudah Benarkah Cara Kita Mencintai?

“Aku cinta dia.. aku akan lakukan apapun agar dia bahagia.”

Sering dengar kalimat itu? PASTI… Begitu pula aku. Kalimat itu nggak hanya dilontarkan sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara, tapi sering juga dilontarkan orang tua pada anaknya, bahkan kakek nenek pada cucunya. Namun, yang jadi pemikiran sekarang, benarkah itu CINTA? Atau…
Well.. sebelum dijawab, coba lihat beberapa kasus di bawah ini, yang merupakan kejadian nyata yang terjadi di berbagai tempat di belahan bumi ini…

Seorang anak yang duduk di kelas TIGA SD, terbukti harus mengikuti 17 macam les dalam seminggu. Ya… TUJUH BELAS, yang berarti bisa 2-3 macam dalam sehari selama 7 hari berturut-turut. Mulai les pelajaran, les Inggris, les Mandarin, les vokal, les piano, les biola, les menggambar, les renang, les modelling, les balet dan entah les apa lagi *aku sendiri beneran udah lupa*. Si ibu berdalih itu demi kebaikan anaknya, karena dia cinta anaknya, maka berapa besarpun uang yang dikeluarkan untuk 17 macam les itu nggak dia pikirkan, asal anaknya jadi serba bisa. Pertanyaannya… bahagiakah si anak? Benarkah itu semua yang diinginkan si anak?

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Seorang rekan juga pernah curhat setelah habis beradu mulut dengan ibundanya. “Bete… Kemarin makan malem bareng keluargaku dan keluarga pacar. Tiba-tiba aja mama bilang sama mamanya pacarku kalo akhir taon nanti mereka bakal dateng melamar pacarku. Padahal baru semalem mamaku nanya soal aku uda sreg nggak sama pacarku, dan aku juga nggak bilang kalo aku siap untuk step lebih lanjut. Bukan nggak serius. Cinta sih cinta aku sama pacarku, tapi aku belom siap. Dan kalopun aku siap, aku pengen aku yang duluan ngomong sama pacarku kalo aku mau lamar dia, bukannya orangtuaku ke orangtua dia. Mama sih bilangnya demi kebahagiaan aku, tapi nyatanya aku malah tertekan sekarang…”.

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Seorang rekan suami juga pernah bercerita padaku, sejak kelahiran putri pertamanya, sang buah hati seolah langsung dikuasai si nenek. Memandikan, selalu dilakukan si nenek dengan alasan ibunya belum bisa, padahal seseorang yang baru jadi ibu tentunya ingin juga belajar dan punya pengalaman memandikan buah hatinya sendiri. Si nenek juga sangat senang sekali menggendong sang cucu, sehingga cucu pun sempat merasa lebih nyaman ada dalam gendongan neneknya daripada ibunya sendiri dan sang cucu jadinya sempat lebih memilih tidur dalam gendongan sambil ditimang2, drpd tertidur sendiri di kasurnya. Karena katanya si nenek lebih pengalaman, karena nenek cinta cucunya. Kenyataannya? Sang cucu sempat lebih memilih neneknya daripada ibunya sendiri. Itukah yang seharusnya terjadi?

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Salah seorang sahabat baik juga pernah berbagi dukanya, sebut saja X. Sejak kecil sampai dia berusia 14 tahun, orang tuanya selalu melarang dia untuk keluar rumah selain sekolah dan kursus. Alasannya? Karena orang tua cinta dia, takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, takut si X nggak konsen dengan pelajarannya. Jadi sampai usia 14 tahun itu juga dia sama sekali nggak pernah tau rasanya berteman diluar sekolah, pergi bersama teman, main bersama teman, kumpul-kumpul bersama teman, bahkan belajar bersama teman. Hingga saat usianya 14 tahun dan dia diutus orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, 5 orang teman dekatnya di sekolah berinisiatif untuk mengadakan farewell party di rumah salah seorang dari mereka, yang notabenenya, si pemilik rumah adalah dokter keluarga sahabatku ini. Orang tuanya tetap ngotot tidak memperbolehkan X pergi, sampai sang nyonya rumah menelepon orang tua X. Akhirnya X memang diijinkan pergi, tapi pesta sudah jadi muram karena bukan surprise lagi bagi X. Sampai disitu saja efeknya? Ternyata TIDAK. Si X nggak pernah tau rasanya kumpul bersama teman, nggak pernah tau rasanya nge-date dengan cinta monyetnya, bahkan saat dia sudah diluar negeri, dia sempat jadi anak yang paling kikuk dan kuper, dijauhi teman karena dianggap sombong, padahal yang sebenarnya adalah karena dia minder dan nggak tau bagaimana caranya berteman dalam artian sesungguhnya.

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Ada juga seorang ibu yang beradu mulut dengan suaminya sampai tiga kali, karena sang suami dengan semangat 45 begitu inginnya mengajak sang anak satu-satunya (yang masih berusia 8 bulan) pergi liburan ke Bali selama beberapa hari. Sang ibu berkeras menolak dengan berbagai pertimbangan matang. Perjalanan kesana memakan waktu yang tidak sebentar, beberapa hari disana dengan pagi sampai sore mengunjungi banyak tempat dan baru pulang sampai hotel sore menjelang malam, angin kencang dan hawa laut yang kurang baik untuk anak dibawah satu tahun, banyaknya barang-barang yang dibawa dan bikin mobil penuh yang pasti akan membuat perjalanan jadi nggak nyaman, nggak bisa bawa stroller karena mobilnya kecil. Tanpa stroller, si baby pasti akan lelah terus menerus digendong hampir sepanjang hari. Si ayah tetap berkeras mengatakan bahwa si anak bisa digendong bergantian, pengen ngajak anak biar anak senang, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya, siapa yang SEBENARNYA senang? Si anak atau ayahnya? Benarkah si anak akan senang dengan semua yang akan terjadi? Benarkah si anak akan senang dan mengerti apa itu Bali dan segala keindahannya? Akankah memory itu bisa tersimpan di dalam otak seorang anak yang bahkan satu tahun saja belum, sehingga saat besar nanti dia akan tetap ingat bahwa dia pernah dibawa ke Bali pada usia segitu?

Dari kondisi ini, CINTA kah itu? Atau…

Readers, sering kali kita merasa apa yang kita lakukan sudah benar, demi seseorang yang kita cintai. Bahkan terkadang kita merasa kita telah mengorbankan waktu, tenaga, uang dan segalanya demi membahagiakan orang yang kita cintai. Tapi sering kali kita melihat itu semua HANYA DARI KACAMATA KITA, bukan dari kacamata orang yang kita cintai. Jika ada waktu, coba kita pikirkan, sudah benarkah cara kita mencintai selama ini?

Cinta merupakan serpihan-serpihan kecil tenggang rasa yang pada akhirnya kau runtuhkan dari batu granit egomu sendiri. Cinta merupakan penerimaan keterbatasan-keterbatasan secara perlahan-lahan – keterbatasanmu sendiri maupun orang-orang lain. Cinta berarti membuang beberapa ambisi yang pernah kau miliki bagi dirimu sendiri
(Arthur Gordon)

Have a nice day…

Support : Penting bagi Pasangan…

Beberapa minggu yang lalu, dikala sedang iseng baca-baca news feed di Facebook, mataku menangkap sebuah tulisan yang bagiku cukup menarik, yang ditulis oleh seorang mahasiswi berusia 20 tahun, seperti yang terpampang dibawah ini :

Beberapa hari kemudian, aku mendapat curhatan dari salah seorang teman baik, masih berkisar seputar topik yang sama…

“Bete gue… abis ribut sama pacar. Masa, tiap hari mintanya ditemeniiiiinnnn melulu. SMS, BBM, telpon, hampir tiap 5 menit selalu ada aja dari dia. Malem juga gitu. Nelpon ato video call tiap malem sampe gue ngantuk. Jadi sebel sendiri lama-lama. Kapan gue ada waktu buat beres-beres kamar? Kapan gue ada waktu buat masak? Gue juga masih pingin ngurusin tanaman-tanaman gue, pingin baca buku-buku yang uda sampe berdebu di pojokan kamar tapi bahkan belom keluar dari plastik pembungkusnya. Ga bisa jalan-jalan, ga bisa belanja, ga bisa ngembangin hobi, pingin nyoba ini itu juga nggak bisa…”

Hmm… jadi teringat masa lalu sendiri. Saat masih pacaran, saat masih duduk di bangku sekolah. Orang tua juga sering bilang, “sekolah jangan pacaran dulu, nanti nggak konsen belanjar, banyak ruginya, blablabla…”. Dan saat itu aku bisa membuktikan bahwa paradoks itu nggak selalu benar. Jaman sekolah, nilai-nilaiku tetap tinggi, nggak pernah lepas dari 5 besar, bahkan pernah duduk di puncak peringkat meski aku punya pacar. Kenapa? Karena aku makin konsentrasi di kelas, makin rajin mencatat, biar kalau sewaktu-waktu pacarku nggak ngerti tentang salah satu mata pelajaran, aku bisa jelasin ke dia. Bisa ngajarin dia = bisa ngabisin waktu bareng dia juga, dan menghindari kemungkinan dia bakal blajar ke cewek laen *kalo otaknya otak posesif*. Jaman kuliah, dekat dengan seseorang yang istimewa *meski nggak sampe pacaran* terbukti juga ampuh mengembalikan niat belajarku dan otomatis nilai-nilaipun jadi terdongkrak karena tingkat kerajinan ke-boost.

In my opinion sih, nggak selamanya pacaran itu merugikan, meski nggak selamanya juga pacaran itu menguntungkan. Kalo mau rugi, nggak perlu masih remaja, orang yang uda kerja pun bisa aja makin rugi saat pacaran. Bahkan yang sudah berumahtangga pun juga bisa rugi kalau cara dan sudut pandang kita dalam melihat suatu hubungan itu salah. Rugi atau enggaknya, sebetulnya tergantung pada bagaimana pasangan itu sendiri saling berkomitmen sejak awal, dan tergantung juga pada bagaimana mereka saling menjaga komitmen mereka selama mereka bersama. Setelah kurenungkan, aku sampai pada satu kata kurasa tepat menggambarkan apa yang dibutuhkan setiap pasangan biar nggak merasa kalo pacaran cuma bikin rugi aja, yaitu SUPPORT. Selama bersama, supportlah pasanganmu selama apa yang dia lakukan adalah hal yang positif. Pacaran nggak berarti harus selalu nyaris 24 jam bersama. Itu terpenjara namanya. Ada saat-saat masing-masing pribadi juga butuh menjalankan kehidupannya sendiri. Lagian… 24 jam bersama, apa nggak bosen tuh?

Mensupport nggak selalu berarti menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan pasangan untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi bia juga dilakukan dengan hal-hal kecil. Berikan ruang pada pasanganmu untuk bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan. Jangan ngambek kalau pasangan sesekali pingin hang out sama teman-temannya, jangan bete juga kalau pasangan sampe 3 jam nggak menghubungimu karena dia sedang sibuk membereskan kamarnya dan menyampul buku-bukunya. Jangan mendiamkan dia seharian keesokan harinya setelah semalam dia lupa meneleponmu untuk mengucapkan “selamat tidur” karena dia ketiduran saat membaca novel kesukaannya. Jangan terus memborbardir pasangan dengan telepon dan SMS selama dia sedang asyik belanja bersama mamanya. Menurutku, dengan tidak membebani pasangan saja, itu sudah merupakan suatu bentuk support.

Selama yang dilakukan pasangan bukan merupakan hal yang buruk, nggak ada salahnya kan? Kita juga nggak mau kan, punya pasangan yang minus pengalaman, minus teman, minus pergaulan, minus ketrampilan hanya karena dia terlalu banyak menghabiskan waktu bersama kita sehingga dia jadi nggak bisa mengembangkan diri? Dan terlepas dari semuanya, coba bayangkan jika kita yang diperlakukan demikian. Sanggupkah kita hidup dalam *penjara maya* seperti itu?

Segala macam hubungan antar manusia itu mirip pasir dalam genggamanmu. Jika berada pada telapak tangan yang terbuka, pasir itu akan tetap pada tempatnya. Namun jika kau kepalkan tanganmu erat – erat untuk mempertahankannya, pasir itu akan menyembur melalui sela – sela jarimu. Mungkin ada yang tersisa, tapi kebanyakan akan jatuh. Pacaran adalah seperti itu. Kalau dipertahankan dengan longgar, dengan menghormati dan membebaskan orang lain, hubungan itu akan tetap utuh. Tapi jika digenggam terlalu erat, terlalu memiliki, maka hubungan cinta itu akan terlepas dan hilang…
(Kaleen Jamison, The Nibble Story)

Have a nice day…

Life : Rumput Tetangga TIDAK Selalu Lebih Hijau

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, kita manusia *biasa* ini berandai-andai menjadi orang lain. Dan yang diandai-andaikan biasanya tidak jauh dari sosok seorang artis, politikus, orang terkenal, pejabat, kadang juga sampai superhero yang sesungguhnya cuma ada di dunia maya. Tak jarang aku mendengar ungkapan-ungkapan seperti : “Cantiknya si Jennifer Aniston”, “Pingin deh punya body seksi kayak Megan Fox”, “Andai gue jadi BCL… bahagia pasti punya suami setampan Ashraff”. Ada juga lagu yang menyiratkan pengandaian si pengarang tentang sosok seorang Gayus Tambunan yang beberapa waktu lalu marak menghiasi berbagai media. Saat mata dunia tengah tertuju pada pernikahan abad ini, salah seorang teman juga ada yang menulis di wall Facebooknya : “Hari ini seluruh perempuan di dunia iri pada Kate Middleton yang berhasil menjadi istri Pangeran William” *yang kemudian langsung kutanggapi dengan to the point : “SEMUA? gue enggak…”*. Tidak hanya sekedar berucap, kadang ada juga orang-orang yang rela mengeluarkan uang banyak untuk bisa mewujudkan impian mereka, misalnya: operasi plastik.

Ada juga pepatah yang mengatakan “rumput tetangga selalu lebih hijau”. Yah… secara kasat mata sih mungkin iya. Namun seperti yang jelas digambarkan di sebuah iklan rokok terbaru belakangan ini, kadang apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Lihat saja, berapa banyak artis yang jadi pecandu narkoba, bahkan sampai bunuh diri karena tidak kuat menanggung tekanan. Seorang Gayus Tambunan yang kaya raya pun, nggak bakalan sampai nekat keluar dari penjara kalau memang kehidupan di penjara seindah diluar. Dan Kate Middleton? Untuk urusan pernikahannya saja, sudah berapa ratus juta orang yang membandingkan dia dengan Lady Diana. Menurut Anda, apakah itu suatu hal yang menyenangkan?

Jadi ingat curhatan salah seorang teman baik, sebut saja X. Seorang perempuan yang terbiasa hidup mandiri dan selalu berusaha mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa merepotkan orang lain, hingga dia mendapat julukan: superwomen. Julukan ini bermula dari salah seorang teman kantornya pada beberapa tahun yang lalu, saat kantor sedang mengadakan perombakan fisik untuk membuka *lahan baru*. Lantai paling atas dari gedung kantor yang biasanya dipakai untuk gudang, harus dibuka sebagai ruangan kerja karena semakin meningkatnya jumlah sumber daya manusia yang ditampung. Para karyawan (dan karyawati) pun dikerahkan untuk ikut berbenah, termasuk mengangkat meja kursi, memindahkan lemari, dan seterusnya dan seterusnya. Karena sudah terbiasa, si X pun ikut turut ambil bagian dalam pemberesan itu. Hingga salah seorang karyawan mengeluarkan statementnya, “nih anak cewek ato cowok sih… kuat bener dari tadi ikutan bantu angkat-angkat…”. Dan yang lain menimpali, “itu cowok! siapa bilang dia cewek??? oh… salah sih… dia superwomen!”. Sejak saat itu, entah kenapa predikat superwomen itu jadi begitu melekat pada diri si X.

Sebagian orang memang merasa iri padanya. Dia bisa melakukan segala sesuatu sendiri tanpa harus ribut minta bantuan orang lain, nggak perlu menunggu orang lain jika ingin minum dan air di galon air mineral di atas dispenser sedang kosong karena orang terakhir yang menghabiskannya lari dari tanggungjawab untuk mengganti dengan yang baru, nggak perlu mencari dan mengeluarkan uang untuk membayar pembantu rumah tangga, nggak perlu jasa laundry untuk mencuci seterika seprei dan masih banyak lagi. Tapi nyatanya? Si X sering kali menangis sendiri karena dia merasa orang-orang di sekitarnya jadi terlalu mengandalkan dia, kadang terlalu tidak peduli, bahkan seringkali sampai lupa bahwa si X juga manusia yang punya hati dan perasaan. Sering kali dia harus mengerjakan juga hal-hal yang sebenarnya tidak sanggup dia lakukan, tentunya dengan mengerahkan segenap tenaganya yang entah dari mana datangnya. Sampai akhirnya, lama kelamaan si X makin membenci julukan superwomen yang diberikan padanya itu…

Well… sering kali kita menghabiskan waktu kita untuk mengasihani diri sendiri, untuk iri pada orang lain dan segala kelebihannya yang terlihat dengan mata kita, tanpa kita tau sisi lain dari orang tersebut. Sering kali kita mengeluh, menggerutu, kenapa aku nggak seperti dia, kenapa aku nggak punya ini, kenapa aku harus begini; hingga kita lalai untuk bisa melihat bahwa merekapun punya masalah, bahwa kita masing-masing punya berkat tersendiri dan bahwa kitapun harus mensyukuri apapun yang kita miliki, karena bagaimanapun, kita pasti masih lebih dari yang lain.

Orang bijak tidak bersedih untuk hal-hal yang tidak dia miliki
tetapi bergembira untuk hal-hal yang dia miliki
(Epictetus)

Have a nice day…

Life : Tiap Orang Memiliki Salibnya Masing-Masing

Sudah lebih dari dua tahun terakhir ini, aku bergabung dengan salah satu situs jejaring sosial, bertemu dengan teman-teman baik yang bertahan sejak jaman kuliah hingga sekarang, juga berkenalan dengan orang-orang baru. Dalam perjalanan waktu, grafik kedekatan seorang dengan yang lain pun berubah-ubah. Kadang kita lebih dekat dengan si A, namun beberapa waktu kemudian bisa saja kita jadi lebih dekat dengan si B. Hal yang wajar dalam suatu lingkup kehidupan bersosial…

Dari kedekatan dan intensitas yang terbina dari hari ke hari itulah, kami jadi saling berbagi dan semakin saling mengenal satu dengan yang lain. Tak hanya soal kebiasaan, hobi, atau aktivitas sehari-hari, terkadang kami pun berbagi hal-hal yang menjadi beban hidup kami sehari-hari. Dan tentu saja, beda orang, beda masalah…

Ada yang tetap menjomblo padahal usianya sudah mencapai kepala tiga tapi stay enjoy aja, ada juga yang resah karena putus cinta disaat dia merasa sudah waktunya untuk membina rumah tangga. Ada yang santai saja meski bertahun-tahun menikah dan masih belum dikaruniai anak, ada juga yang risau dan jadi badmood setiap mendengar teman-temannya satu persatu sudah mulai menikmati masa-masa menjadi orang tua. Ada yang kurang akur dengan mertua namun beruntung mereka tinggal di kota yang jauh berbeda dari mertua, ada juga yang *beruntung* karena tinggal bertetangga dengan mertuanya.

Dari sekian banyak teman, ada satu orang yang menurutku cukup bisa dijadikan teladan dalam menghadapi masalah hidupnya. Dia selalu tegar, selalu tetap bersemangat, positive thinking dan bisa mengatasi masalah-masalahnya dengan bijak. Pernah suatu ketika aku berbincang dengan dia, dan dia mengungkapkan suatu kalimat yang sangat mengena di hatiku :

“Setiap orang memiliki salibnya masing-masing. Dan yang terpenting bukan seberapa besar salib kita, tapi bagaimana kita bertindak mengatasi salib yang harus kita panggul itu”.

Semakin kuhayati kalimat itu, semakin aku mengagumi akan kebijaksanaanya, dan semakin aku berterima kasih dalam hati setiap kali aku dikuatkan dengan kalimat itu. Benar sekali, tidak perlu iri dengan orang lain yang kelihatannya saja tidak punya masalah sebesar kita, karena sedekat apapun kita dengan seseorang, kita takkan pernah bisa benar-benar tau sebesar apa masalah yang dia hadapi. Dengan ikhlas, lebih fokus bagaimana menghadapi masalah kita dan berusaha tetap bahagia dengan apa yang ada, mungkin akan jauh lebih baik daripada terus sekedar meratapi nasib yang tiada berujung.

Untuk menutup tulisan kali ini, kebetulan dua hari yang lalu seseorang membagikan kisah sederhana ini padaku, yang kutuang juga disini dengan harapan akan lebih banyak berguna juga bagi siapapun yang membaca tulisan ini…

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Lewatlah sebuah motor di depan mereka. Berkatalah petani ini pada istrinya: “Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah.”

Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka. Pengendara motor itu berkata kepada istrinya: “Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.”

Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobilsedan Mercy lewat di hadapan mereka: “Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok.”

Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya: “Betapa bahagianya suami istri itu. Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini. Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.”

 

 

Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik org lain.
Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada…

Have a nice day…

Posted from WordPress for Android

Life : Bete? Jangan Nyolot, Pleeease…

Yang namanya manusia hidup, nggak mungkin selamanya bakal happy melulu. Dunia berputar, roda kehidupan juga berputar. Yang namanya senang dan sedih pasti datang silih berganti. Dan nggak cuma itu. Ada juga yang namanya resah, kecewa, penasaran, juga BETE, jadi bumbu sehari-hari. Sering kali dalam kehidupan sehari-hari aku melihat dan mendengar orang nyolot (baca : cari gara-gara) ke orang lain yang sebetulnya nggak tau apa-apa dan nggak salah apa-apa, hanya karena orang itu lagi bete. Dulu, aku sering juga tanpa sengaja mengorbankan orang dekatku untuk jadi pelampiasan rasa bete ku yang tak tersalurkan pada orang yang seharusnya. Dan nggak jarang juga aku mengalami disolot orang yang lagi bete, padahal bukan aku yang bikin dia bete, bahkan aku nggak tau kalau dia lagi bete.

Contoh gampang : Doraemon. Aku yakin 99% dari kita tau dengan tokoh kartun yang sudah mendunia selama lebih dari 20 tahun itu. Sering kali dalam cerita-ceritanya, kita bisa menemukan saat dimana si Nobita jadi bulan-bulanan Giant cuma karena Giant lagi bete setelah kena marah ibunya. Yang lain lagi, yang paling sering aku temui adalah seseorang yang melimpahkan kekesalannya pada orang terdekat mereka (entah sahabat, adek, anak atau pasangan). Bete di tempat kerja, pulang-pulang malah anak istri yang nggak tau apa-apa yang jadi sasaran. Bete abis kena marah dosen killer, pacar SMS nanya “uda makan?” gitu aja bakal langsung disemprot sekalian menumpahkan kekesalan terpendam yang emang sama dengan cari mati kalau dilimpahkan pada sang dosen.

Dari pengalaman yang kualami bahwa jadi sasaran pelampiasan kebetean seseorang itu bener-bener nggak enak, aku menerapkan beberapa poin yang kemudian selalu berusaha kuingat dan kulakukan dikala aku bete. Just want to share, here are the points :

    • Diam
      Sebisa mungkin tahan diri untuk tidak banyak berinteraksi dengan orang. Perhatikan setiap kata yang akan keluar dari mulut kita, jangan sampai kita jadi menyakiti orang lain dengan perkataan kita hanya karena kita lagi bete, atau lebih parahnya lagi, kita mengucapkan sesuatu yang akan kita sesali di kemudian hari.

    • Katakan pada orang yang perlu tau, kalau kita lagi bete
      Disaat kita lagi bete, bukan nggak mungkin ada saja satu dua orang yang mengajak kita berinteraksi. Jika kita mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang tersebut atau dengan apa yang sedang dia utarakan kepada kita, segeralah tarik diri menjauh dan katakan saja terus terang that we are not in a good mood. Begitu akan jauh lebih baik daripada orang tersebut nantinya jadi sasaran ke-bete-an kita. Kalau orangnya masih ngotot? Semprot aja deh… *siul*

    • Cari *tong sampah*
      Wajar-wajar saja ketika kita sedang bete, kita butuh seseorang untuk jadi *tong sampah* (baca : tempat curhat) kita. Tapi jangan lupa, kita mencari tong sampah untuk MENCERITAKAN apa yang bikin kita bete, bukannya untuk menjadikan dia sasaran untuk melampiaskan kebetean kita yang tak tersalurkan pada orang yang seharusnya.

    • Cari hal-hal yang bisa membuat keadaan jadi lebih baik
      Setiap orang memiliki kesenangan sendiri-sendiri yang bisa saja berbeda satu dengan yang lain. Apapun itu, lakukanlah untuk membuat hari kita sedikit lebih baik dan mengurangi kadar bete kita. Jalan-jalan sejenak, shopping, main game, baca novel atau komik, bersih-bersih, mandi, ngemil, ngeblog, dengerin musik, masak… Hindari melakukan segala sesuatu yang malah bikin kita jadi mellow. Mellow disaat lagi bete malah bikin kita makin serasa ditelan bumi. Masih nggak bisa juga? Tidur aja deh… Biasanya kalo uda bangun tidur, semua jadi lebih baik… #crossFinger

Sekedar berbagi pengalaman, beberapa tahun lalu, saat aku masih berstatus mahasiswi yang tengah berkutat dengan skripsinya, aku sedang menanti di depan ruang dosen untuk konsultasi dengan salah seorang dosen pembimbingku. Setelah menunggu beberapa saat, bertemulah aku dengan beliau. Dan apa kata beliau? “Besok saja ya… saya sedang bete…”. Mungkin bagi beberapa mahasiswa, jawaban itu terasa begitu egois dan menyebalkan. Apalagi jika mahasiswanya sudah menunggu sang dosen sampai berjam-jam. Tapi bagiku, itu berarti beliau menghargai aku. Daripada aku kena getah betenya, atau dia memberiku konsultasi dengan setengah hati, lebih baik bicara terus terang begitu sehingga aku bisa pulang dan lain waktu aku bisa kembali konsultasi dengan lebih baik.

Well… bete itu wajar.. manusiawi. Tapi bukan berarti harus ada orang-orang nggak bersalah yang kemudian jadi korban kan? Semoga ini bermanfaat bagi siapapun readers yang lagi bete. Bete? Jangan nyolot, please… 🙂

Have a nice day…

Posted from WordPress for Android

Life : Salah? Minta Maaf Dong…

Minta maaf, terdengar sebagai hal yang sudah lazim dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tak jarang, ada orang-orang yang menggerutu karena segitu gampangnya seseorang minta maaf, tanpa menyadari betul kesalahannya, tanpa berusaha mengingat kesalahannya dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Sehingga ketika kesalahan itu terjadi lagi, segampang itu pula orang tersebut minta maaf lagi.

Berlawanan dengan golongan orang seperti yang tertulis diatas, ternyata ada juga golongan orang yang menganggap kata MAAF sebagai suatu kata keramat yang sangat tabu untuk diucapkan. Sebut saja X, seorang manager di sebuah perusahaan besar. Suatu hari, dia mendapatkan pesan dari boss untuk memberitahukan kepada seluruh anak buahnya, bahwa akan diadakan meeting pada hari Sabtu, yang biasanya adalah hari libur untuk perusahaan tersebut. Setelah meng-iya-kan si boss, ternyata si manager lupa memberitahukan informasi tersebut kepada seorang anak buahnya yang kebetulan waktu itu memang sedang tidak masuk kantor karena sakit. Ketika hari Sabtu si anak buah tidak datang meeting, marahlah si boss. Dan ketika si anak buah menyalahkan managernya yang lalai memberikan informasi tersebut kepadanya, si manager bukannya mengakui kesalahannya dengan berbesar hati dan minta maaf, malah balik menyalahkan si anak buah, “salahmu kamu tidak bertanya pada temanmu yang lain!” *Lhe?!*

Lain lagi cerita si Y yang punya orang tua yang diktator. Setiap kali, si Y harus selalu menuruti titah orang tuanya, apapun itu. Jangankan membantah, mengeluarkan pendapat kalau ortunya lagi *adem* aja si Y uda kena marah. Dan karena terlalu sering mendapat tekanan dari orang tuanya, suatu hari si Y tidak tahan dan spontan memberontak saat orang tuanya bertindak semena-mena lagi terhadapnya. Hasilnya? Orang tuanya marah besar bak perang dunia ketiga. Si Y diusir dari rumah. Y pergi mengadu ke rumah pamannya yang bijaksana, dan si paman memutuskan untuk mempertemukan Y dengan orang tuanya lagi untuk berdamai. Y berpikir mungkin dengan bantuan pamannya, orang tuanya bisa sadar akan kesalahan mereka. Nyatanya? Alih-alih sadar, orang tua Y malah bersikeras memaksa Y untuk minta maaf pada mereka atas ketidaksopanan Y, tanpa mau melihat alasan Y melakukan itu semua. Alasannya? “Aku orang tua! BAGAIMANAPUN JUGA kau HARUS hormat pada orang tua!” *Lhe?*

Ada lagi si Z, yang pernah curhat karena ceweknya orang yang keras kepala banget. Setiap kali si cewek berbuat kesalahan, dia sama sekali nggak pernah mau minta maaf. Boro-boro minta maaf, ngaku salah aja nggak mau. Yang ada, ketika dia berbuat kesalahan, si Z justru yang terus dipojokkan dengan segala daya upaya cuma demi menutupi salahnya. Begitu kakunya hingga si Z pernah berkata, “Haruskah aku berlutut memohon agar kamu bisa meminta maaf jika kamu melakukan kesalahan?”

Dari dua ilustrasi pertama, aku jadi berpikir sendiri. Sebenarnya apa sih kaitan antara sebuah kata maaf, dengan pangkat seseorang ataupun dengan derajat seseorang? Apa ada peraturan yang menyebutkan kalau seorang yang lebih tinggi kedudukan atau pangkatnya (baik dalam keluarga, tempat kerja, tempat organisasi atau dimanapun) punya hak untuk semena-mena dan tidak mengakui kesalahannya apalagi minta maaf kepada orang yang kedudukannya lebih rendah dari dia? Apa sih yang membedakan antara atasan dan bawahan, antara orang tua dan anak, antara boss dan pegawai, dalam hal minta maaf? Dan dari ilustrasi ketiga, aku jadi heran sendiri. Apa sih yang akan berkurang dari diri kita saat kita meminta maaf, hingga kita sebegitu enggannya mengucapkan satu kata itu?

IMO, kata MAAF, bukan hanya membuka hati seseorang untuk memaafkan, tapi juga menunjukkan seberapa tinggi tingkat kepekaan dan kebijaksanaan seseorang, juga menunjukkan kebesaran hati orang tersebut untuk mau mengakui kesalahannya. Gengsi ataupun derajat seseorang tidak akan berkurang hanya karena dia minta maaf. Justru simpati akan datang pada mereka yang mau mengakui kesalahannya. So… masih terlalu angkuh untuk minta maaf?

Have a nice day…

Jatuh Cinta… Berjuta Rasanya…

Judul postingan kali ini emang mengingatkan kita aku pada sebuah lagu entah judulnya apa dan siapa yang mempopulerkan *asli cuma tau sepenggal itu aja*. Jatuh cinta…berjuta rasanya… ah… siapa sih yang nggak pernah jatuh cinta? Hampir seluruh manusia di dunia pernah merasakannya… Entah jatuh cinta beneran, entah sekedar naksir, entah sekedar kagum…

Jatuh cinta, emang bikin perasaan selalu gembira… Membuat dunia serasa penuh warna, membuat setiap detik penantian serasa seabad, membuat otak jadi lebih kreatif melakukan hal-hal yang biasanya tak pernah terpikirkan, bahkan jatuh cinta membuat setiap orang berubah jadi pujangga… Simak saja beberapa ungkapan orang yang sedang jatuh cinta ini :

Aduh… lupa bikin pe er gue.. abisnya, semaleman gue ditelpon cowok gue sih… kita ngobrol ampe jam 3 pagi. Aaahhh… senangnyaaaa…….

Eh, gue minjem duit lo dong… gopeceng aja.. ntar gajian gue bayar kok. Gue mau beliin kado buat pacar gue nih…

Anterin gue ke mall dooong… mau blanja niiih… mo beli baju baru, parfum sama alat make up yang up-to-date nih… lusa gue mau nerima pernyataan cinta dari dia…

Well… OK, untuk kelas jatuh cinta tingkat dasar atau menengah, aku nggak komen. Tapi untuk jatuh cinta tingkat atas (baca : serius), IMO, dari pengalaman pribadi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipikirkan serta dipertimbangkan…

1. Cinta itu NGGAK buta.
Cinta itu buta. Siapa bilang??? Sebuah hubungan yang serius nggak akan bisa didapat dari sebuah cinta buta. “Pokok gue cinta dia. Titik. Yang lain bisa diatur”. Whoaaa… indahnya dunia jika memang semua semudah itu. Kenyataannya, jika diawal mungkin terlihat bisa, yang terjadi sebenarnya adalah kita sedang menanamkan bom waktu untuk diri kita sendiri, yang bisa dipastikan bakal meledak di kemudian hari. Tinggal tunggu waktu aja…

2. Komunikasi dan toleransi adalah yang terpenting.
Nggak ada masalah yang nggak bisa dibicarakan. Nggak ada perbedaan yang nggak bisa dijembatani. Tergantung sejauh mana kita mau membuka diri untuk membahasnya, dengan kepala dingin tentunya. Tiap orang punya pola hidup, batas toleransi dan kekhilafan masing-masing. Itu yang harus kita pahami sejak awal. Sebisa mungkin hindari salah paham, bicarakan perbedaan-perbedaan yang ada dan cari solusinya. Kalau memang tetap tidak ada jalan keluar, lebih baik pikirkan lagi jika tetap ingin meneruskan hubungan itu. Kesampingkan ego dan gengsi saat bicara dengan pasangan. Rasa tak mau kalah cuma bikin pasangan menilaimu makin rendah. Dan jika berbicara, perhatikan intonasi. Jangan menyinggung perasaan pasangan dan membuat suasana runyam hanya karena intonasi yang salah…

3. Kelanjutan hubungan adalah tanggung jawab bersama.
Namanya juga jalan bareng, mencapai satu tujuan yang sama. Sudah pasti tanggungjawab bersama juga untuk ikut berjuang mencapai 1 tujuan bersama yang sudah dibayangkan sejak awal menjalin hubungan. Jangan cuma si cowok aja yang kudu kerja rajin ngumpulin sesuap nasi dan segenggam berlian. Jangan cuma si cewek aja yang musti berusaha mengambil hati ortu pasangan. Lihat ke dalam diri masing-masing, sudahkah memberi yang terbaik? Dan berikan yang terbaik juga dengan ikhlas, jangan menuntut balasan. Akan lebih baik jika pasangan memberikan yang terbaik karena dorongan dalam hati, bukan karena membalas budi. Nggak usah kecewa jika pasangan dinilai tidak semaksimal diri sendiri. Tiap orang standartnya beda. Tetap nggak bisa terima? Bicarakanlah baik-baik… 🙂

4. Saling menghargai.
Tanamkan dalam hati, pria dan wanita itu sejajar. Meski dalam kenyataannya, pihak pria memang lebih dominan. Pihak pria memang masih jadi kepala, penentu keputusan, tapi jangan lupa, pasanganmu bukanlah dibawahmu. Dengarkan jika pasanganmu mengungkapkan pendapat. Terkadang, wanita lebih bisa melihat sesuatu dari sudut padang yang berbeda dan menawarkan solusi yang lebih baik. Nggak ada yang salah dengan mendengar. Jika tak setuju? Ungkapkan saja disertai alasan dengan intonasi yang baik. Selesai…

Jatuh cinta, sesungguhnya tidaklah seindah yang dibayangkan dan sesederhana yang diduga. Banyak hal yang harus diperhatikan di dalamnya. Salah melangkah bisa fatal akibatnya karena disini, hati yang dipertaruhkan. Orang bijak bilang,

Kalau tidak sakit, orang tidak akan menyebutnya JATUH cinta…

Dan aku sangat setuju dengan ungkapan itu. Sayang sekali saat aku menulis ini semua, aku sudah jauh melewati fase jatuh cinta. Karena itu sekarang aku hanya bisa menulis ini, berharap tulisan ini bisa sedikit memberi bekal pada mereka yang sedang jatuh cinta diluaran sana. Selamat jatuh cinta… tetaplah berusaha dalam kesadaran penuh, sehingga sakit yang kan kau rasakan tak begitu dalam… 🙂

P.S : congratulation for the new couple, Mr. H & Ms. S… we all know, the way is really not easy. But keep hold your hands together and learn from the past, both of you will be able to past all of the obstacle… God will lead you… ^^

Have a nice day…

Putus? Biasa Aja Kaleee…

Pacaran… Siapa sih yang nggak tau apa itu pacaran? Jaman sekarang, bahkan anak TK pun sudah tau istilah itu, meski tentu saja cuma cinta monyet. Dan yang namanya pacaran, emang lebih ke proses mengenal lebih dalam sekaligus menyesuaikan diri dengan pasangannya. Kalo cocok, ya lanjut. Kalo enggak? Ya putus… *eits… jangan protes dulu.. penulis juga tau yang namanya putus cinta itu nggak segampang yg diucapkan ^^*

Yang jadi fenomena saat sepasang kekasih memutuskan utk mengakhiri hubungan kasih diantara mereka, nggak cuma rasa sakit hati, tapi juga sering kali jadi ajang untuk saling menjelek-jelekkan mantan pasangan dan mengobral cerita diluaran, yang kadang bener-bener nggak bisa sepenuhnya dipertanggungjawabkan. Tujuannya? Ada yang bilang sakit hati ama mantannya, iseng, ada juga yg emang pingin jd pusat perhatian alias ngartis, ada juga yang berusaha mengumpulkan simpati orang *entah ujungnya untuk apa*, dan alasan paling sering : menjaga gengsi

Sebut saja beberapa ungkapan di bawah ini, yang paling sering terdengar saat seseorang mengobral cerita cintanya yg kandas :


GUE yang mutusin dia *dengan penekanan pada dirinya sendiri*

Iya.. putus.. tapi biar lah. Cewek gampangan gitu. Sebulan aja uda takluk abis-abisan kok dia ama gue..

Bah… plin plan dia… bilangnya cinta ama gue, tapi giliran gue ajak nikah, malah diulur-ulur. Padahal pembicaraan uda ada, gue uda mulai booking restoran dan lain-lain…

Aaah… cowok gampangan dia mah… gue deketin dia kan cuman demi duitnya aja. Klo ama orangnya mah… makasi deeeh…

Awalnya, aku biasa aja denger ungkapan-ungkapan sejenis diatas. Mungkin juga dulu aku pernah bertingkah konyol kayak gitu. Cuman lama-kelamaan jadi mikir juga… sebetulnya apa sih untungnya bertingkah demikian? Bukankah dengan bertingkah begitu, orang yang benar-benar berjiwa dewasa dan bijaksana jadi bisa menilai bahwa kita pun nggak lebih baik dari mantan pasangan kita?

Sebut saja dari contoh pertama, apa bisa dipastikan kalau yang memutuskan hubungan adalah pihak yang tidak bersalah? Belum tentu juga… Contoh kedua. Si cewek mungkin jadi dikenal orang sebagai cewek gampangan. Lalu si cowok? Apa nggak kemudian bakal dikenal orang sebagai cowok yang demen mainin cewek? Apa ga berarti bakal jelek juga di mata orang lain? Contoh ketiga. Kalaupun emang bener si cewek yang membatalkan, pasti ada alasannya dong… dan, yakin bukan dari si cowok juga akar masalahnya? Di contoh keempat juga si cewek yang bakal kena cap sebagai cewek matre. Lagi-lagi, bakal dihindari juga oleh orang-orang yang berniat cari pasangan serius…

Readers, seburuk apapun mantan kita, dia orang yang pernah begitu dekat dengan kita, menghabiskan waktu bersama kita, berbagi suka dan duka dengan kita. Mengapa tidak kita simpan saja kenangan indah itu dalam hati dan tidak menodainya dengan ungkapan-ungkapan yang tak perlu?

Have a nice day…

BlackBerry… Mendunia, Tapi Tetap Bukan Oksigen

Hari gini… siapa sih nggak nggak pernah denger yang namanya BlackBerry? Siapa sih yang nggak pernah liat bentuk BlackBerry? Aku yakin setiap orang pasti pernah dengar, pasti pernah lihat… Bahkan 9 dari 10 orang sekarang hampir dipastikan memilikinya sebagai gadget penting yang nggak boleh lupa dibawa kemanapun dia pergi.

Pergi nggak lupa bawa BlackBerry, lagi idle pasti pegang BlackBerry, bahkan lagi sibuk pun tangannya tetep nggak bisa lepas dari BlackBerry nya. BBM lah, browsing lah, chatting lah… semuanya bikin yang namanya BlackBerry udah serasa jadi bagian tak terpisahkan dari tubuh manusia. Dan mereka pengguna BlackBerry jadi terlena hingga menganggap semua orang punya BlackBerry, semua situs bisa membaca apa yang mereka tulis dengan menggunakan BlackBerry dan fasilitas autotext nya itu *kalo nggak salah — maklum, saya bukan salah satu pengguna BlackBerry dan nggak pernah liat2 fasilitasnya BlackBerry*

Simak saja beberapa kalimat yang sering diucapkan atau dituliskan para pengguna BlackBerry berikut ini :

“Ntar BBM gue ya…” — KADANG diucapkan tanpa sadar kalo yang diajak ngomong nggak punya BlackBerry

“Ada BB kan? PIN mu berapa?” — Sering kali diucapkan oleh orang yang baru kenalan atau waktu tiba-tiba ketemu temen lama yang udah hampir nggak pernah kontak.

Itu masih lumayan. Ada lagi yang parah, beberapa pengguna BlackBerry sering kali menulis di situs jejaring sosial (kebanyakan sih Facebook) dengan fasilitas autotext mereka yang jelas aja nggak bisa terbaca dengan baik dan benar melalui media lain, misalnya laptop. Masih OK lah kalau itu ditulis di wall sendiri, anggap aja emang itu tidak ditujukan untuk seseorang. Tapi gimana kalau tulisan jenis begitu, dikirimkan ke wall seseorang yang nggak punya BlackBerry? Like this :

Mulai bingung...

makin membingungkan...

Paling membingungkan...

 

IMHO, yang tersirat cuman satu : nih orang niat mau ngomong sesuatu nggak sih? Nggak bisa kah nulis dengan tulisan yang bener-bener bisa terbaca oleh penerimanya dengan baik dan benar sehingga pesan yang terkandungpun jadi tersampaikan…?

BlackBerry… emang wabah mendunia… tapi tetep aja, BlackBerry bukan oksigen yang WAJIB dipunyai seluruh manusia di muka bumi ini…

 

Note : blog ini dibuat TANPA sedikitpun ada perasaan ga suka atau anti BlackBerry ataupun para penggunanya… 🙂

Have a nice day…

Diinginkan Ataupun Tidak, Manusia Pasti Berubah

Sering kali orang lupa bahwa hidup ini adalah kumpulan pergerakan. Setiap orang berubah, termasuk diri sendiri dan orang lain pastinya. Namun kadang, ada yang menganggap dan berharap semua tetap sama, sementara dirinya sendiri sudah berubah…

Beberapa waktu lalu, seorang teman lama muncul namanya di situs jejaring sosial Facebook. Felt surprised with that, langsung ku add nggak pake lama. Dulu, kami bersahabat semasa SMP, dan masih berlanjut sampai SMA hingga makin lama jarak yang membentang makin jua menjauhkan kami, sampai nyaris lost contact. Setelah ku add, kucoba mengirimkan SMS padanya, kutujukan pada nomor terakhir yang masih kupunya and thanks God ternyata nomernya masih terpakai.

Setelah SMS pertama itu, dia menerima friend request ku di FB dan SMS berlanjut hingga dia mengungkapkan suatu pernyataan yang menusuk perasaanku. Mengingat dulu kami adalah sahabat, aku memilih diam dan tidak memperpanjang masalah, termasuk tidak membalas SMSnya lagi. Dan sudah jadi kebiasaanku untuk menuliskan isi hatiku entah di FB, entah di blog, entah di status YM ataupun share di Plurk dengan kalimat-kalimat yang tentu saja ambigu dan tidak mungkin membuat pembacanya langsung memahami tulisanku dengan gamblang. Dari status FB, seorang sahabatku yang masih berstatus sahabat hingga kini, langsung menghubungiku dan yeah… like usual bestfriends do… they sharing each others. So natural, right?

Satu dua hari kemudian, si teman lama mengirimkan SMS lagi dan mulai menyadari kalau MUNGKIN dia sudah menyinggung perasaanku. Dia bilang klo sekarang emang dia ceplas-ceplos gitu kalo ngomong. Tetap kudiamkan dengan alasan yang sama seperti sebelumnya… kalau kujawab, bakal tambah panjang ceritanya. Ternyata, nggak puas nggak dapet jawaban SMSnya, dia mengirimkan message lewat FB. Panjang lebar dan kubaca, intinya dia masih berkeras bilang kalo dia nggak nyangka aku bakal tersinggung dengan ucapan dia yang *menurutnya* wajar (mungkin karena dia udah terbiasa ceplas-ceplos itu), plus dia juga complain karena membaca postingan sahabatku di FB yang dinilainya menyindir dia. Dia juga protes karena katanya, sebagai SAHABAT, nggak pantes aku memilih diam, nggak pantes juga aku menceritakan kejengkelanku pada ORANG LAIN. Gosh…..

Jujur, makin jengkel membaca message seperti itu, karena beberapa poin di bawah ini :

  • dia menyebut kami SAHABAT? 10 tahun lalu, ya, kami sahabat. Sekarang? Masih bisa dibilang sahabat kah dua orang yang hampir sama sekali nggak pernah kontak?
  • aku dianggap salah karena aku share dengan ORANG LAIN. Oh no… hampir 10 tahun hampir tak ada kontak, apa dia tau siapa orang yang disebutnya sebagai ORANG LAIN itu?
  • aku ataupun sahabatku sama sekali tidak menyebut nama teman lamaku ini dalam tulisan kami. So? Why the person (bahkan takkan kusebut he or she) feels so angry? We don’t tell the world that the person is you!

Dari yang kualami, aku kemudian menarik kesimpulan : manusia berubah. Dengan atau tanpa disadari, dengan atau tanpa dikehendaki, entah karena keinginan dalam hatinya sendiri atau karena pengaruh dari lingkungan, manusia pasti berubah. So? Jika kita bisa menerima diri kita berubah, mengapa kita tidak bisa menerima jika orang lain juga berubah?

Have a nice day…

Post Navigation